Citizen Reporter
Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh?
Tanahnya subur dan maha luas. Sejatinya rakyat Indonesia hidup makmur dan sejahtera
Oleh: Shafa Salsabila dan Maysaroh Afrina
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA).
Tanahnya subur dan maha luas. Sejatinya rakyat Indonesia hidup makmur dan sejahtera yang dalam bahasa agama Islam disebut baldatun thayyibatun wa rabbul ghafur.
Namun, kenyataannya, penduduk Indonesia yang kini mencapai hampir 290 juta jiwa disebutkan rata-rata berada di bawah garis kemiskinan dan berpendidikan rendah. Jika dibanding dengan negara lain, termasuk dengan Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura, tingkat kesejahteraan dan pendidikan rakyat Indonesia jauh lebih rendah.
Ini dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang berada di peringkat ke 112 dari 193 negara. Sementara Singapura bahkan masuk dalam 10 besar IPM terbaik. (Lihat: Negara dengan SDM Paling Maju di Dunia, https://goodstats.id, edisi 28 Agustus 2024).
Baca juga: Harga Pertalite April 2026 Berapa per Liter? Saat BBM Non-Subsidi Melonjak Tajam
Kaya SDA, Mutu Pendidikan Rendah
Indonesia adalah negara gemah ripah atau kaya dan subur. Tambang emas dan batu bara tersedia di Papua dan Aceh. Hutan tropis di Kalimantan dan Leuser Sumatera.
Sawah dan kebun terhampar di setiap pulau. Kekayaan laut yang melimpah dan merata di semua pesisir.
Namun, di balik itu, realitanya ternyata pendidikan di Indonesia masih sangat rendah dan tertinggal jauh dari negara-negara maju.
Jumlah anak putus sekolah di Indonesia masih tinggi. Mutu pendidikan belum sesuai kebutuhan pasar global. BPS Aceh melaporkan, banyak lulusan Perguruan Tinggi yang menganggur (https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1010647/lulusan-perguruan-tinggi-penyumbang-pengangguran-terbanyak-di-aceh-cek-data-bps).
Pelajar di daerah-daerah terpencil masih kekurangan fasilitas pendidikan dan bahkan di Indonesia banyak anak-anak yang harus kerja sambil sekolah dan kuliah untuk membayar uang pendidikannya.
Dibandingkan dengan negara-negara maju seperti: Singapura, Jepang, dan Finlandia, kualitas dan fasilitas pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal.
Negara Indonesia tampaknya lebih mengutamakan pengurasan SDA dibanding dengan meningkatkan SDM bangsa. Ironinya kekayaan alam tersebut belum berbanding lurus dengan kemajuan pendidikan di Indonesia.
Baca juga: Sosok Bursok Anthony Marlon, Bawahan Menkeu Purbaya Minta Prabowo–Gibran Mundur Lewat Surat Terbuka
Pendidikan di Indonesia belum menjadi prioritas utama secara nyata. Kebijakan pemerintah belum sepenuhnya mendukung pemerataan pendidikan di Indonesia.
Contoh ada keterbatasan syarat dalam proses mendaftar beasiswa yang tidak bisa diikuti oleh semua kalangan. Hal ini menunjukkan ketimpangan besar antara semangat pelajar dan mahasiswa dalam mengejar pendidikan dengan kondisi akses yang disediakan negara.
Berbeda dengan Indonesia, negara-negara maju seperti Singapura, justru mampu menunjukkan kemajuan pesat di bidang pendidikan meskipun tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah.
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
| 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Lulus Program Student Exchange ke Brunei Darussalam 2026 |
|
|---|
| Ikhtiar India Menghadirkan Hunian Layak bagi Masyarakat Miskin Kota |
|
|---|
| Menjalani Puasa Ramadhan di Musim Dingin Barat Irlandia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shafa-Salsabila-dan-Masyaroh-Afrina-Mahasiswi-Prodi-Komunikasi-dan-Penyiaran-Islam-UIN-Ar-Raniry.jpg)