Selasa, 12 Mei 2026

Tafakur

Menguji Iman

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman”,

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Jarjani Usman

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman”, sedang mereka belum diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. al-Ankabut: 2-3).

Iman dan ilmu agama adalah dua hal yang berbeda, tetapi saling mempengaruhi. Ilmu pengetahuan agama memang bisa meningkatkan iman; sebaliknya, iman juga bisa mendorong penambahan ilmu agama. Karena semakin yakin tentang akhirat, misalnya, maka akan berusaha belajar lebih banyak lagi tentang hal itu. Namun demikian, yang bisa mengukur iman seseorang hamba hanyalah Allah.

Allah lah yang tahu pasti keadaan iman di hati seseorang. Sedangkan manusia tidak tahu pasti hati seseorang. Apalagi telah dikatakan Rasulullah SAW bahwa iman seseorang hamba bisa naik turun. Paginya beriman, malamnya bisa berubah sebaliknya. Dan juga sebaliknya, malamnya beriman, siangnya sudah berubah.

Seseorang yang berilmu pengetahuan agama yang tinggi pun bisa berpeluang hilang imannya. Seperti akibat melakukan kemaksiatan, berupa perzinahan, penipuan, dan sebagainya. Sebagaimana kata Rasulullah SAW, “Tidaklah seseorang yang berzina ketika berzina dia dalam kondisi beriman, dan tidaklah seseorang meminum minuman keras ketika meminumnya dalam kondisi beriman, dan tidaklah seorang pencuri pada saat mencuri dalam kondisi beriman, dan tidaklah seseorang merampok yang diketahui oleh banyak orang pada saat merampok dalam kondisi beriman” (HR. Bukhari).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved