Selasa, 12 Mei 2026

Singkil Butuh Penangkaran Buaya

Perwakilan masyarakat Aceh Singkil, yang sering menjadi korban serangan buaya, Rabu (20/5) melakukan pertemuan dengan

Tayang:
Editor: bakri
Dua bocah melihat buaya dalam kerangkeng di kantor BKSDA Resort Wilayah 10 Rawa Singkil di Desa Ketapang Indah, Singkil Utara, Aceh Singkil, Rabu (20/5).SERAMBI/DEDE ROSADI 

SINGKIL - Perwakilan masyarakat Aceh Singkil, yang sering menjadi korban serangan buaya, Rabu (20/5) melakukan pertemuan dengan pihak BKSDA Aceh. Dari pertemuan, disimpulkan bahwa di Kabupaten Aceh Singkil perlu segera dibangun tempat penangkaran buaya, sebagai solusi untuk meminimalisir konflik antara masyarakat pencari lokan dengan satwa yang menghuni Sungai Singkil itu.

Pertemuan itu dipimpin Bupati Aceh Singkil, Safriadi, dihadiri Wakil Ketua DPRK, Sunarso, Sekdakab Singkil, Drs Azmi dan perwakilan masyarakat. “Pertemuan ini menyimpulkan, perlu dibangun tempat penangkaran buaya di Singkil, dan BKSDA dalam waktu dekat akan melakukan survei ke Singkil terkait rencana ini,” kata Mansurdin, perwakilan masyarakat yang ikut dalam pertemuan itu.

Rekomendasi lainnya, perlu dibentuk satuan tugas (Satgas) yang terdiri unsur BKSDA, Pemkab Aceh Singkil, kepolisian dan masyarakat, yang bertugas menangkap buaya besar untuk dimasukkan ke penangkaran. Penangkapan hewan buas ini akan melibatkan para pencari lokan, sekaligus sebagai langkah membantu mempekerjakan mereka. “Jika mendapat izin gubernur, penangkaran buaya di Singkil merupakan yang pertama di Aceh,” ujar Mansurdin. Menurutnya, masyarakat pun menyambut baik kesepakatan yang dihasilkan dalam pertemuan itu.

Pertemuan ini dilakukan untuk merespons aksi para pencari lokan di Singkil, yang Selasa (19/5) lalu berunjuk rasa ke kantor bupati setempat, sambil menghadiahkan dua ekor buaya berukuran besar. Hingga siang kemarin, buaya tersebut masih berada di kantor BKSDA Resor 10 Rawa Singkil, di Desa Ketapang Indah, Singkil Utara. Dua ekor buaya itu kini ditempatkan dalam kerangkeng besi, dan menjadi tontonan warga setempat.

Populasi buaya di Kabupaten Aceh Singkil diperkirakan terus meningkat sejak satu dasawarsa lalu. Korban nyawa pun terus berjatuhan akibat dimangsa reptil buas tersebut. Mulai dari pencari lokan di Sungai Singkil, hingga nelayan di Pulau Banyak.

Konflik manusia dengan buaya di kawasan itu mulai menjadi perhatian pada 2003 lalu. Kala itu, penduduk Ujung, Kecamatan Singkil, tewas dimangsa buaya. Kejadian serupa berturut-turut terjadi hampir setiap tahun. Peristiwa terbaru, menewaskan Yusril, penduduk Sitiambia pada akhir Maret 2015 lalu.

Menurut pihak BKSDA, meningkatnya populasi buaya di Singkil disebabkan bertambahnya spesies buaya di kawasan itu, yang belum diketahui asalnya. Buaya asli Singkil berwarna hitam dengan postur pendek besar. Sedangkan spesies baru --yang menurut warga dilepasliarkan oleh pihak NGO-- berwarna kuning dengan tubuh lebih panjang.

Faktor lain yang membuat populasi buaya meningkat tajam, yakni berkurangnya biawak yang merupakan hewan pemangsa telur buaya, yang secara alami menjadi penyeimbang perkembangbiakan buaya.

“Maraknya perburuan biawak membuat banyak telur buaya selamat dan kemudian menetas dan berkembang biak. Apalagi, hewan ini bisa bertelur dalam jumlah banyak,” jelas Sutino, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor 10, Rawa Singkil, Rabu (20/5).(de)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved