Droe Keu Droe
Dompet Peduli Imigran Rohingya
FENOMENA dalam beberapa minggu terakhir yang menghiasi media massa baik media cetak, media elektronik
FENOMENA dalam beberapa minggu terakhir yang menghiasi media massa baik media cetak, media elektronik dan media online adalah mengenai terdamparnya ratusan imigran dan pengunugsi Rohingya di beberapa daerah pesisir Aceh dan Sumatera Utara (Langkat dan Pangkalan Susu). Memang bukan kali pertama mereka terdampar atau diselamatkan oleh nelayan kita saat terombang-ambing di lautan lepas Selat Malaka, karena karena kehabisan bahan bakar atau bekal.
Sedih, miris bercampur aduk ketika melihat dan membaca dari media massa kondisi mereka saat sudah didaratkan di Lhoksukon dan Kuala Langsa dengan kondisi fisik dan tubuh yang sangat jauh dari sehat dan bugar, ditambah lagi ada bayi, anak-anak dan para ibu-ibu yang ikut rombongan mengungsi jadi imigran yang katanya terusir dari tanah kelahiran mereka di Myanmar.
Melihat kondisi mereka ini yang sangat memprihatinkan yang terkatung-katung, kelaparan dan kehausan di lautan, sudah sepatutnya Serambi Indonesia membuka program Dompet Peduli Imigran Rohingya untuk memfasilitasi masyarakat dan rakyat Aceh untuk membantu meringankan beban mereka, saudara kita seiman sesama muslim yang belum mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan di negri mereka dengan membantu seikhlasnya dari saudara sesama muslim ditempat kita.
Setidaknya dapat membantu beban Pemda Aceh Utara dan Pemko Langsa dalam menghadapi pengungsi dan imigran Rohingya yang tiba-tiba tersebut. Tentu kedua pemda tersebut tidak siap dengan anggaran dan biaya yang mereka keluarkan untuk menanganinya sendiri di samping melibatkan provinsi dan Negara sambil menunggu keputusan dari Pemerintah dalam hal ini Keimigrasian, Kementrian Luar Negeri RI, bahkan pihak PBB dalam hal ini UNHCR.
Seharusnya kasus dan krisis Rohingya dibahas dalam peringatan 60 tahun KTT Asia Afrika, yang baru-baru ini diselenggarakan di Bandung. Namun sayangnya ketidakterwakilan etnis Rohingya baik di parlemen Myanmar atau pemerintah Myanmar tidak peduli, sehingga gaung dan isu Rohingya tidak menjadi pembahasan di KTT AA tersebut. Selanjutnya kita berharap itikad baik dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN untuk membahas hal ini dan mendesak dan mengultimatum pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan kasus Rohingya.
Teuku Rahmad Danil Cotseurani
Internal Auditor ASDC Bireuen-Aceh. Email: danilcotseurani@yahoo.co.id