Prajurit Penjaga Rondo Sering Disambangi Piton
PULAU Rondo merupakan salah satu pulau terluar di ujung barat Nusantara. Meski nama Rondo sudah sering didengar
PULAU Rondo merupakan salah satu pulau terluar di ujung barat Nusantara. Meski nama Rondo sudah sering didengar namun tidak banyak yang mengtetahui bagaimana bentuk asli maupun karakter pulau yang hanya seluas 42 hektare tersebut.
Pulau Rondo masuk wilayah Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang. Pulau yang berjarak sekitar 15 mil laut dari Kota Sabang (Pulau Weh) ini berbatasan dengan Pulau Nikobar, India. Rondo merupakan salah satu dari empat pulau kecil yang masuk wilayah Kota Sabang. Tiga pulau lainnya adalah Klah, Rubiah, dan Seulako.
Meski Pulau Rondo tak ubahnya ‘pulau mati’ karena hampir tak ada penopang kehidupan di sana, namun pulau tersebut adalah bagian dari kedaulatan NKRI dan menjadi salah satu pulau terluar negeri ini. Karenanya, Indonesia wajib menjaga kedaulatannya, meski di pulau seperti Rondo sekalipun.
Untuk tugas mengamankan Rondo dari berbagai gangguan bahkan ‘pencaplokan’ oleh pihak luar, Indonesia menempatkan prajurit TNI secara bergantian di pulau berbentuk tempurung yang hampir setiap jengkal hamparannya berstruktur cadas dan batu karang tersebut.
Saat ini, ada 34 personel TNI (Marinir dan Raider) yang ditugaskan menjaga pulau gersang itu. Rinciannya, 24 personel dari Yonif 8 Marinir dan 10 personel Batalyon 111 Raider.
Terlalu banyak kisah suka maupun duka yang mewarnai pengabdian personel TNI yang mengamankan Pulau Rondo. Setidaknya begitulah yang tergambar ketika Serambi mewawancarai Danton Satgas Pam Pulau Rondo, Letda Mar Novan Eka S, Rabu 20 Mei 2015 atau sehari menjelang peresmian Monumen Teuku Umar di Pulau Rondo oleh Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko.
Menurut Letnan Novan, ia bersama personelnya baru bertugas belum penuh dua bulan di pulau yang tak memiliki air bersih dan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Dia menggantikan pasukan sebelumnya yang betugas selama enam bulan. “Kami baru di sini, sebelumnya ada pasukan lainnya yang sudah bertugas. Tapi walaupun baru, banyak kisah yang kita alami di Pulau Rondo,” kata Novan.
Dia menuturkan, keadaan Pulau Rondo cukup membuat mereka belajar dan harus mandiri seperti apa yang dititahkan selama pendidikan kemiliteran. Kendala utama yang dihadapi di pulau tersebut yakni tidak adanya air bersih. Air bersih hanya ada jika dipasok dari Sabang. Jika cuaca buruk, pasokan sering terhenti sehingga mereka terpaksa meminum air hujan.
“Air dan logistik dipasok sebulan sekali, kalau sudah habis ya air hujan solusinya. Kalau hujan tiba, kita sediakan tempat penampungan. Air itulah yang kita masak untuk air minum. Kalau mandi tetap di laut,” sebutnya.
Kisah lainnya yang setiap hari dialami 34 personel TNI adalah harus mendaki sebanyak 392 anak tangga dari dermaga ke pos utama di puncak Pulau Rondo. Sedangkan kalau naik ke menara suar, harus menapaki hingga 500 anak tangga.
“Karena setiap hari harus mandi laut, otomatis kita harus turun dan setelah mandi kita naik lagi, mendaki tangga yang curam sebanyak 392 anak tangga,” tuturnya.
Mereka juga sering memanfaatkan berbagai buah-buahan yang bisa dikonsumsi. Buah yang sering dikonsumsi katanya seperti kelapa, mangga, dan beberapa jenis tanaman lainnya. “Ya apa yang halal di sini kita makan, posisi kita ini kan bukan di kota, kita ini di pulau terpencil jadi kita tetap harus bertahan hidup bagaimana pun keadaanya,” tegas Letnan Novan.
Disambangi piton
Kisah lainnya yang dialami pasukan penjaga Rondo adalah sering didatangi ular saat mereka tidur di pos. Jenis ular yang sering menyambangi mereka adalah piton. Tapi lagi-lagi ia mengatakan itu adalah hal yang sangat lumrah. “Ular sering masuk ke pos kita. Tapi kita tidak pernah diganggu, dan kita pun tidak menggangu mereka. Ular lewat hanya mencari makan. Pasukan sebelumnya juga mengingatkan agar tidak membunuh dan memburu binatang apapun di sini,” ungkapnya.
Ia menyimpulkan, mereka betah berada di Pulo Rondo dalam menjalani tugas negara tersebut. Bagi Letnan Novan dan semua pasukan, NKRI adalah harga mati. Kedaulatan Indonesia tetap harus dijaga hingga tetes darah penghabisan. “Apapun yang terjadi kita tetap bertugas di sini. Ini wilayah kedaulatan Indonesia, tidak boleh ada orang lain mengganggu, kami siap bertugas di sini mengamankan perbatasan negara kita,” tutup Letnan Novan menyiratkan kebanggaan sebagai prajurit sejati.(sb)
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |