Senin, 1 Juni 2026

Din Minimi, Sosok Pekerja yang Ulet

SEBELUM angkat senjata lagi pada Oktober 2014, Din Minimi adalah pekerja yang ulet. Dia tipe pekerja yang rajin, gigih

Tayang:
Editor: bakri

SEBELUM angkat senjata lagi pada Oktober 2014, Din Minimi adalah pekerja yang ulet. Dia tipe pekerja yang rajin, gigih, dan jujur. Dua orang mantan majikan atau taukenya membeberkan hal itu di depan Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto, Rabu (3/6) pagi di ruang tamu rumah dinas Pangdam IM.

Kedua orang yang berkisah tentang profil Din Minimi di depan Pangdam itu adalah Anwar alias Tgk Rabo, wakil panglima II GAM Wilayah Ulim-Peureulak (Aceh Timur) dan Adi Maros, eks kombatan GAM Wilayah Peureulak yang kini memimpin LSM Aceh Human Foundation, di samping sebagai Ketua Asosiasi Kontraktor Aceh (AKA) Aceh Timur.

“Pada dasarnya, Din Minimi itu orang yang mau bekerja. Dia orangnya rajin dan gigih,” kata Tgk Rabo.

Seusai konflik Aceh, Tgk Rabo membuka usaha kilang kayu di Aceh Timur. Di tempat inilah Din Minimi dipekerjakan sebagai operator alat berat. Mengangkat dan menurunkan kayu log memang memerlukan beko dan forklift. Nah, Din Minimilah sebagai operatornya. Gajinya Rp 2,8 juta sebulan plus gratis makan dan rokok di kantin perusahaan.

Tapi kemudian, perusahaan yang dipimpin Tgk Rabo tutup karena kesulitan bahan baku, lalu para pekerjanya “bertaburan” ke mana-mana. Termasuk Din Minimi.

Untuk menafkahi ibunda, istri, dan tiga anaknya, Din Minimi beralih induk semang. Kebetulan, temannya sesama kombatan GAM, Adi Maros, bernasib lebih mujur. Perusahaan yang dibentuk Adi memenangkan tender beberapa proyek. Salah satunya membangun drainase di Julok, Aceh Timur. Karena ia tahu Din Minimi jago mengoperasikan beko, maka Din Minimi ia rekrut sebagai pekerja.

Ketika proyek selesai, Adi Maros dan Din Minimi terpisah. Tapi tetap saling berkomunikasi via handphone. Dalam suasana lama tak bersua, tiba-tiba Adi Maros terkejut melihat wajah Din Minimi tampil di media massa pada Oktober tahun lalu dengan menyatakan bahwa ia angkat senjata lagi. Tapi bukan untuk bertempur dengan TNI atau Polri, melainkan untuk memperjuangkan kepada Pemerintah Aceh hak-hak para eks kombatan serta janda dan yatim korban konflik.

Baik Adi Maros maupun Tgk Rabo menangkap kesan bahwa saat Din Minimi dan teman-temannya sesama eks kombatan memiliki pekerjaan dan sehari-hari disibukkan oleh pekerjaannya itu, ia tak terpikir untuk naik gunung, angkat senjata lagi. Tapi lain lagi faktanya setelah ia menganggur, setelah jatuh bangun dari satu majikan ke majikan lainnya.

Reza Vahlevi MH, aktivis peduli perdamaian dan antikekerasan, menggolongkan Din Minimi sebagai kelompok eks kombatan yang “berair mata”, bukannya “bermata air”. Kini ia dan teman-temannya bangkit melawan ketidakadilan yang selama ini dirasakan oleh umumnya eks kombatan di kalangan akar rumput (grassroot).

Di mata Reza, sepuluh tahun damai Aceh masih dominan milik elite eks GAM dan belum menyentuh pesoalan substantif yang bisa menyelesaikan segudang persoalan dari sebab dan akibat atas perdamaian itu sendiri.

Sebagai aktivis yang terlibat mendorong agar Din Minimi diperlakukan secara manusiawi dan keluhannya direspons, Reva menyatakan sangat ingin memberikan kado istimewa sepuluh tahun damai Aceh pada Agustus nanti. Kado istimewa itu dalam imajinasi dia adalah duduknya Din Minimi, Gubernur Zaini Abdullah, Wagub Muzakir Manaf, dan Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar satu meja sambil menyeruput kopi dan menikmati indahnya damai yang berkelanjutan dan bermartabat untuk semua.

“Bagaimanapun, damai harus dibumikan sepanjang masa dan keadilan harus ditegakkan, karena ini adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. No peace without justice,” imbuh Reza. (yarmen dinamika)

Tags
Din Minimi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved