Refleksi 10 Tahun Damai Aceh

Cerita di Balik Perundingan GAM-RI di Helsinki

Putaran kedua perundingan mulai menyentuh subtansi. Kedua pihak membicarakan tentang Otonomi Khusus, Self Government, amnesti dan HAM.

Cerita di Balik Perundingan GAM-RI di Helsinki
FOTO/google
Ketua Juru Runding Pemerintah RI, Hamid Awaluddin dan Ketua Juru Runding GAM, Malik Mahmud bersalaman ditengah mediator perundingan Martti Ahtisaari seusai menandatangani MoU Helsinki, 15 Agustus 2005 di Helsinki Finlandia. 

JUMAT, 28 Januari 2005. Kota Helsinki, Finlandia, berselimutkan salju. Dari balik telepon genggamnya, Hamid Awaluddin berbicara dengan Wapres Jusuf Kalla, beberapa saat sebelum delegasi Pemerintah RI memulai perundingan putaran pertama dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

JK memberi beberapa petunjuk kepada Hamid Awaluddin sebelum amanat negara itu ia emban. Sementara sinar matahari pagi baru saja menyembul seperti bayangan di balik kabut di langit Helsinki, di penghujung musim dingin. Seusai sarapan pagi Hamid bersama delegasi Pemerintah RI menuju sebuah mansion. Letaknya di Vantaa, 25 km dari luar Kota Helsinki, Finlandia.

Ruangan perundingan agak kecil, hanya memuat meja bundar berornamen klasik di tengah-tengahnya. Sebuah piano hitam terdapat di sudutnya. Jarum jam menunjukkan pukul 9.30 pagi saat perundingan dimulai. Perundingan putaran pertama dibagi dalam dua format. Yakni pertemuan antara dua delegasi yang dimediasi mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari dan pertemuan langsung hanya antara delegasi pemerintah dan GAM. Masing-masing terdiri atas lima anggota.

Dari pihak pemerintah hadir Hamid Awaluddin sebagai Ketua Delegasi, dengan anggota Sofyan Djalil, Farid Husein, Usman Basya dan Agung Wesaka Puja. Dari pihak GAM hadir Malik Mahmud (Ketua), dr Zaini Abdullah, Nur Djuli, Nurdin Abdurrachman dan Bachtiar Abdullah. Sedangkan dari pihak mediator terdiri atas Martti Ahtisaari, Hannu Himanen, Juha Christensen dan Maria.

"Bertemu langsung dengan pimpinan GAM dan bergaul dekat dengan mereka, tak pelak membuat saya kian mengenali karakter mereka satu persatu," kata Hamid seperti dikutip dalam bukunya "Damai di Aceh (Catatan Perdamaian RI-GAM di Helsinki)".

Anggota Perunding dari GAM, Nur Djuli banyak menyoroti masalah-masalah umum. Ia berbicara dengan gaya teaterikal. Sementara Nurdin Abdurrachman berkonsentrasi pada masalah bersifat kasuistik. Lain lagi dengan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah. Malik Mahmud sangat lembut. Ia selalu menggunakan kata-kata yang halus. Sedangkan Zaini Abdullah cenderung berbicara tegas dan ingin mengambil kesimpulan cepat.

"Terasa benar bagi saya, jam terbang Malik Mahmud dan Zaini Abdullah dalam meja perundingan sangat panjang. Kata-katanya terasa terukur dan ditimbang penuh sebelum dikeluarkan," tutur Hamid.

Dari Pemerintah Indonesia tampil sebagai juru bicara Hamid Awaluddin dan Sofyan Jalil. Di bidang hukum dan politik lebih banyak disuarakan Hamid. Sementara bidang ekonomi, pembangunan, kesejahteraan, sosial diulas Sofyan Jalil. Pada perundingan putaran pertama ini banyak hal yang dibahas.

Antara lain kondisi Aceh yang baru saja porak-poranda dihantam tsunami, gencatan senjata dan kerangka Otonomi Khusus (Otsus) yang ditawarkan Pemerintah. Namun GAM tampaknya berbeda pendapat. GAM menilai perundingan harus keluar dari konteks Otsus agar tidak terkesan kaku.

Sementara Martti Ahtisaari menghendaki perundingan dilakukan dalam wilayah Otsus. Perbedaan mendasar GAM dengan Martti Ahtisaari ini sempat memanas. GAM menuding pihak fasilitator sudah berpihak. Sampai-sampai pimpinan mediator Martti Ahtisaari mengatakan, “Coba lihat undangan dan agenda yang saya kirimkan kepada Anda semua. Di situ jelas terlihat bahwa kita melakukan dialog dalam kerangka Otonomi Khusus Aceh. Bukan dalam kerangka kemerdekaan.” Ahtisaari menambahkan, “Saya percaya, Anda ke tempat ini pasti sudah membaca udangan dan agenda tersebut. Karena itu, Anda harus menyetujuinya sebelum ke sini.”

Halaman
1234
Penulis: Muslim Arsani
Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved