PAG Tampung 76% Karyawan Arun

PT Perta Arun Gas (PAG) hanya bisa menampung sekitar 76 persen atau 827 orang dari 1.087 karyawan PT Arun

* Karyawan Outsourcing Paling Banyak

LHOKSEUMAWE - PT Perta Arun Gas (PAG) hanya bisa menampung sekitar 76 persen atau 827 orang dari 1.087 karyawan PT Arun, untuk dipekerjakan di perusahaan tersebut. Hal itu disampaikan Presiden Direktur PAG, Teuku Khaidir, kepada Serambi, Sabtu (3/10) kemarin, terkait mulai beroperasinya PT PAG per 1 Oktober 2015.

Teuku Khaidir mengatakan, setelah operasional PT Arun berakhir pada 30 September, PAG langsung beroperasi penuh pada 1 Oktober. Proses peralihan PT Arun ke PAG, katanya, berjalan dengan baik. Sebab sebelum masa operasi Arun berakhir, pihakya sudah mengadakan rapat koordinasi dengan Arun, termasuk soal peralihan karyawan.

Presiden Direktur PAG itu menyebutkan, untuk saat ini pihaknya hanya mampu menampung sekitar 76 persen dari total karyawan PT Arun. Rinciannya, untuk pekerja tetap dari 228 orang yang ditampung hanya 123 orang. Pekerja outsourcing dari 845 orang, yang ditampung 689 orang. Sementara pekerja kontrak yang berjumlah 14 orang tidak bisa ditampung.

“Kita tidak bisa menampung semuanya karena sekarang sedang masa transisi, dan belum bisa beroperasi normal. Jadi ini bukan rekrutmen baru, tapi peralihan dari Arun ke PAG. Sisanya akan kita tampung juga nanti kalau memang dibutuhkan,” jelas Teuku Khaidir.

Sedangkan aset-aset PT Arun, sambung Khaidir, menjadi hak negara di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan. Sehingga jika ada aset tersebut yang digunakanoleh PAG, maka statusnya disewakan.

Namun, Khaidir mengaku tidak mengahui berapa nilai aset PT Arun. Sebab banyak yang tak dapat digunakan lagi, karena usianya sudah 40 tahun lebih. Sedangkan nilai investasi PAG untuk membangun tiga unit regasifikasi mencapai 110 Dolar Amerika atau sekitar Rp 1,5 triliun. Sementara untuk pembangunan pipa dari Aceh-Medan, diperkirakan capai Rp 4 trilun lebih.

Saham pemerintah
Ditanya apakah ada saham Pemerintah Aceh dalam regasifikasi kilang gas alam cair dan terminal yang dikelola PAG, Teuku Khaidir menyebutkan sampai saat ini belum ada. “Awalnya sudah sepakat sahamnya 30 persen. Tapi saat pembangunannya, Pemerintah Aceh tidak mengambilnya. Jadi sampai sekarang belum ada,” katanya.

Pun demikian, masih terbuka peluang bagi Pemerintah Aceh untuk menanamkan sahamnya. Tapi, kata Khaidir, hal itu perlu dilakukan evaluasi oleh tim independen, berapa nilai dari 30 persen tersebut. “Nilai dari 30 persen itu bukan dari 110 juta Dolar Amerika, karena pembangunannya sudah selesai,” katanya.(jaf)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved