Nasi Bungkus Kapolda Aceh
"Saya memang begini kalau makan siang, lebih nikmat saja rasanya," kata Husein Hamidi.
Penulis: Amirullah | Editor: Yusmadi
Hidangan itu memang 'tak berbintang' namun bisa dinikmati bersama sang jenderal bintang dua yang mengendalikan korps Tri Brata di Aceh saat ini.
SIAPA sangka jika jenderal bintang dua ini makan siangnya justru tak berbintang sama sekali. Jauh dari kesan mewah yang seharusnya biasa dinikmati seorang pejabat nomor satu di Polda Aceh.
Hanya nasi bungkus yang diikat karet, isinya sepotong ikan tuna seukuran tiga jari orang dewasa, jagung yang dipotong kecil, beberapa irisan wortel, dan sayur bayam tak seberapa banyak. Tetapi Senin (16/11/2015) siang itu, Kapolda Aceh Irjen Polisi Husein Hamidi melahapnya penuh semangat.
Tidak pakai sendok, seperti para pekerja keras yang biasa makan di proyek-proyek bangunan bertingkat. Siang itu, yang membedakan hanya seragam kebesaran polisi dan ruangan ber AC. Nasi bungkus itu dibelinya dari warung di sekitar Mapolda Aceh, Jalan Teuku Nyak Arif, Banda Aceh.
Husein terlihat mencuci tangan di kobokan yang tersedia di meja makan ruang kerjanya. Tanganya meremas nasi dalam bungkusan berlapis daun pisang tersebut. Gayanya, mudah tertebak, ia mengaduk ikan tuna sambal lado agar bercampur dengan nasi.
Gaya makan seperti itu, biasa dilakukan para buruh dan penikmat nasi bungkus yang pernah kita lihat. Sekitar setengah jam, hidangan makan siang nasi bungkus habis dilumatnya. Dasar daun pisang di bungkus nasi terlihat sudah bersih, tak ada bulir yang tersisa.
"Saya memang begini kalau makan siang, lebih nikmat saja rasanya," kata Husein Hamidi.
Ia terlihat begitu menikmati sajian makan Senin (16/11/2015) siang itu. Sambil bercerita, ia berterus terang sering tidak nikmat jika makan resmi di meja yang dihidang banyak menu.
"Ini dibeli di warung depan," kata Husein sembari menunjuk ke jendela yang mengarah ke jalan T Nyak Arif.
Tangan kanannya yang belepotan sisa kuah balado, ia cuci di kobokan. Sambil bercerita, Husein mengenang masa-masa awal darurat tsunami di Aceh. Ia juga bercerita saat bertugas di Polwil Priangan, Garut Jawa Barat.
"Saya tugas di sini mengalami tsunami, pas ke Priangan juga mengalami hal yang sama saat Pangandaran diguncang gempa dan tsunami," ujarnya.
Lelaki berkumis tipis kelahiran Paya Pisang Klat, Bandar Dua, Pidie Jaya, 8 September 1958 ini, memang tak terlihat seperti polisi kebanyakan. Bawaannya kalem, gerak-geriknya pun seperti bukan seorang polisi jika ia tak berseragam dinas.
Jika ingin makan, dari Mapolda Aceh ia akan pergi ke rumah ibunya di kawasan Peurada. Masuk ke dapur, ambil makan sendiri. Ia suka dengan gaya itu, dan menikmati hidup tidak formil di luar jam dinas sebagai seorang polisi.
Selesai makan, Husein menyeruput kopi panas. Gula rendah kalori bermerek yang terhidang di mejanya, tapi ia lebih suka melengkapi kenikmatan kopi dengan gula aren yang ia simpan di toples mungkil di meja makan.
"Itu kalau minum kopi jangan pakai gula yang itu, pakai ini baru nikmat," ujarnya menyela saat salah satu tamu menaburkan gula kemasan ke gelas kopi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kapolda-dan-serambi_20151117_211442.jpg)