Tafakur
Menyenangi Kebaikan
Kita sangat dianjurkan untuk terus menghidupkan hati. Soalnya, hati yang hidup akan mampu
Oleh Jarjani Usman
“Barangsiapa menyenangi amalan kebaikannya dan merasa sedih dengan keburukannya, maka ia adalah seorang mukmin” (HR. Al Hakim).
Kita sangat dianjurkan untuk terus menghidupkan hati. Soalnya, hati yang hidup akan mampu merasakan perbedaan baik dan buruk. Sehingga akan merasa senang dalam kebaikan dan segala keburukan akan terasa sedih tatkala mengingatnya.
Bila senang terhadap kebaikan, akan muncul keinginan untuk terus berbuat baik dan berusaha bersama orang-orang yang berbuat baik. Sebaliknya, akan timbul rasa menyesal yang amat dalam terhadap perbuatan-perbuatan buruk yang terlanjur dilakukan.
Lantas bagaimana menghidupkan hati agar tak mati? Banyak cara telah dianjurkan ulama, termasuk menghadiri majelis-majelis ilmu atau duduk bersama ulama. Menghadiri majelis-majelis ilmu sesering mungkin, antara lain, akan mengingatkan kita akan kehidupan dunia yang singkat dan kehidupan akhirat yang abadi.
Sedangkan menghindari majelis-majelis ilmu akan melupakan kehidupan akhirat. Sehingga kehidupan dunia ini akan terus-menerus dalam upaya mengejar kesenangan duniawi seperti kedudukan, harta, dan sejenisnya. Bila ini yang menjadi targetnya, tak akan merasa sedih bila harus melakukan hal-hal buruk, seperti menipu orang-orang yang sanggup ditipu dengan janji-janji palsu.