Pencurian Ternak Marak
Aksi pencurian ternak di kawasan Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah terus marak dalam
* Peternak Linge Resah
TAKENGON - Aksi pencurian ternak di kawasan Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah terus marak dalam beberapa tahun terakhir ini, tetapi belum juga ada tindakan pencegahan dari pihak terkait. Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Ketapang juga menjadi target pencurian ternak dan kerbau, sehingga para peternak mulai resah.
Menurut penuturan sejumlah peternak di Kecamatan Linge, aksi pencurian ternak terjadi jelang meugang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri serta Hari Raya Idul Adha. “Hampir setiap tahun, ternak saya hilang dicuri, bahkan tahun ini saja sudah dua ekor hilang sapi,” kata seorang peternak kepada Serambi,” Kamis (19/11).
Disebutkan, aksi pencurian tersebut membuat para peternak di kawasan Kecamatan Linge semakin resah. Pasalnya, ternak-ternak yang ada di kawasan itu dibiarkan berkeliaran untuk mencari makan. Namun, katanya, bila tidak dijaga, ternak milik masyarakat bisa lenyap digondol maling.
“Para pencuri ini, terkadang nekad menyembelih ternak di lokasi dan mengangkutnya dengan mobil penumpang,” kata warga yang enggan namanya disebutkan. Menurutnya, bila aksi pencurian terus dibiarkan, dikhawatirkan para peternak kesulitan untuk mengembangkan ternaknya.
Dia beralasan, dalam setahun, penambahan ternak masyarakat tak lebih dari dua hingga tiga ekor, sedangkan jumlah yang hilang hampir sama dengan yang lahir. “Percuma peternak dibantu, bila aksi pencurian tidak bisa dicegah. Saya saja, total ternak yang hilang sudah sampai enam ekor sejak beberapa tahun terakhir ini,” akunya.
Aksi pencurian ternak di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, membuat warga juga gerah. Bahkan akibat gencarnya aksi maling tersebut, membuat sebagian peternak mengaku harus menjual ternaknya daripada hilang dicuri. “Kami juga sudah melaporkan aksi ini ke Polsek Isak, mudah-mudahan, pelakunya bisa segera tertangkap,” harap peternak ini.
Sementara itu, Kapolres Aceh Tengah, AKBP Dodi Rahmawan melalui Kapolsek Isak, Ipda Sastra Wijaya, Kamis (19/11) mengatakan sampai sejauh ini pihaknya baru menerima satu laporan terkait kasus pencurian ternak. Itupun bukan ternak yang ada di lokasi peternakan Ketapang. “Kami ada menerima laporan pencurian dicuri, tapi hanya satu kasus saja yang dilaporkan warga,” kata Sastra Wijaya.
Menurut dia, pihak kepolisian telah mengantongi nama pelaku aksi pencurian ternak itu, namun oknum yang diduga menjadi tersangka dalam kasus pencurian ternak tersebut menghilang dan sedang dalam proses pengejaran. “Kita tetap tindak lanjuti laporan ini. Bahkan identitas pelakunya sudah diketahui. Hanya saja pelaku masih menghilang sampai saat ini,” jelasnya.
Menanggapi hal itu, anggota Komisi B, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah, Ikhwanussufa mengatakan mengingat luasnya daerah Kecamatan Linge, maka perlu ditempatkan pos polisi (Pospol) di sejumlah titik. “Patroli juga perlu diaktifkan di daerah yang dianggap rawan pencurian,” ujarnya.
Dia mengatakan kawasan Linge merupakan daerah peternakan, sehingga ternak dibiarkan lepas berkeliaran. Dia juga meminta Pemkab Aceh Tengah, agar memberikan pemahaman kepada peternak agar ternak diawasi dan pola tradisional harus diubah. “Pemkab harus membangun kandang ternak dan kalau bisa memagari area peternakan milik warga,” sebutnya.
Di sisi lain, keberadaan UPTD Ketapang yang menjadi penanggung jawab, juga harus ikut mengawasi ternak tradisioanal di daerah itu, bukan hanya khusus di area peternakan Ketapang. “Masyarakat juga harus berani melaporkan kepada pihak berwajib, jika ada ternaknya yang hilang,” tandasnya.(my)