‘Sie Reuboh’ Mitigasi Bencana

BENCANA paling dahsyat yang pernah dirasakan adalah gempa bumi dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004

Oleh Muhammad Ichsan

BENCANA paling dahsyat yang pernah dirasakan adalah gempa bumi dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Dampak bencana tsunami ini dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Korban jiwa dan trauma yang berkepanjangan menjadi bukti ketidakmampuan masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami. Padahal dalam sejarah tsunami Aceh, tsunami 2004 bukan yang pertama kali terjadi. Sebelum tsunami 2004, Aceh pernah dilanda tsunami pada 1797, 1861, dan 1907.

Penelitian terakhir tsunami Aceh menunjukan bahwa Aceh pernah dilanda tsunami yang sebanding dengan tsunami 2004 sekitar 600 tahun yang lalu. Jika tsunami pernah terjadi pada suatu wilayah di masa lalu, maka bencana serupa akan terulang kembali di masa datang.

Pengalaman bencana tsunami 2004 membuktikan bahwa dampak bencana terjadi karena kurangnya pengetahuan, kesiapan, dan kemampuan individu tentang ancaman bencana dan cara pengurangan risiko bencana. Hal ini disebabkan pengalaman bencana tsunami masa lalu sudah terlupakan, sehingga masyarakat tidak memiliki kewaspadaan terhadap ancaman bencana tsunami. Ketidakwaspadaan ini menjadi penyebab kerentanan pada masyarakat. Masyarakat tidak lagi mengetahui tanda-tanda terjadinya tsunami dan tidak memiliki pengetahuan tentang cara antisipasi dari bahaya tsunami untuk mengurangi risiko yang diakibatkannya.

Guna menghindari risiko bencana tsunami di masa yang akan datang, selayaknya hal-hal yang berkaitan dengan tsunami selalu disampaikan dari generasi ke generasi. Kita perlu persiapan untuk menghadapi bencana tersebut, seperti persiapan bahan makanan ketika kita dilanda bencana gempa dan tsunami datang. Untuk bertahan hidup, logistik merupakan hal yang sangat utama bagi kita korban, makanan-makanan yang diutamakan adalah makanan yang bisa disimpan lama, karena pemulihan pasca terjadinya bencana akan lama.

Satu jenis masakan khas Aceh yang terkenal yaitu sie reuboh (daging rebus). Selain memiliki gizi yang tinggi, sie reuboh juga bisa disimpan menjadi bahan makanan siaga bencana, karena memiliki daya tahan dan tetap enak dikonsumsi hingga satu bulan. Sie reuboh adalah daging yang direbus serta dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe merah dan merica. Semua bumbu ini dicampur dan dihaluskan lalu dimasukkan ke dalam wajan rebusan daging sampai merata.

Selagi daging tersebut direbus dilakukan penambahan bahan lain seperti cuka ke dalam masakan tersebut. Pemberian cuka ini dilakukan secara bertahap sambil masakan diaduk-aduk perlahan hingga semua bumbu meresap ke dalam daging. Bahan utama masakan sie reuboh ini biasanya menggunakan daging sapi, kerbau atau kambing. Santapan yang satu ini lebih bagus bila disajikan selagi hangat.

Makanan perang
Menurut literatur yang ada menyebutkan sie reuboh ini ketika masa kerajaan dulu merupakan makanan diperuntukkan bagi pasukan-pasukan tentara yang hendak pergi berperang. Setiap tentara yang ikut saat berperang, selalu saja dibekali dengan sie reuboh sebagai bahan makanan. Hal ini mengingat sie reuboh bisa disimpan dan tahan dalam jangka waktu lama. Selain itu, sie reuboh yang terbuat dari sapi, kerbau atau kambing ini bisa memenuhi asupan gizi dan energi yang dibutuhkan oleh tentara kerajaan tempo doeloe.

Pada zaman Cut Nyak Dhien dan para pejuang-pejuang di Aceh juga mereka dibekali sie reuboh ini sebagai bahan makanan yang dibawa saat berpergian dan berperang melawan penjajah. Sie reuboh ini juga boleh dimakan langsung maupun dipanaskan terlebih dulu sebelum dikonsumsi. Sie reuboh ini juga dapat disimpan dalam waktu yang lama walapun tidak di suhu tertentu walaupun tidak dipanaskan. Makadari itu Sie Reuboh ini merupakan pilihan yang tepat yang dipilih oleh para-para pejuang zaman dahulu sebagai bahan makanan pokok selain makanan-makanan lainnya.

Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam ataupun dikarenakan ulah manusia itu sendiri. Kejadian alam seperti gempa bumi, tsunami, angin topan atau badai salju, gunung api, perubahan iklim dan kejadian alam lainnya. Bencana yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri adalah banjir bandang, tanah longsor dikarenakan penebangan hutan secara liar, kemajuan teknologi yang begitu pesat sehingga tanah-tanah yang kosong dibangun bangunan yang tinggi sehingga membuat stabilisasi tanah menjadi tidak baik oleh manusia itu sendiri .

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved