SerambiIndonesia/

Mencicipi Mi Caluk Grong-Grong yang Murah Meriah, Rasanya Juara

Jika anda berkunjung ke Kabupaten Pidie, jangan lewatkan mencicipi lezatnya mie caluk Grong-Grong.

Mencicipi Mi Caluk Grong-Grong yang Murah Meriah, Rasanya Juara
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI
Mi caluk di Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie. 

Laporan Nurul Hayati | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Dikenal sebagai salah satu mi terlezat nusantara, Aceh menyuguhkan rupa-rupa olah mi.

Jika anda berkunjung ke Kabupaten Pidie, jangan lewatkan mencicipi lezatnya mie caluk Grong-Grong.

Grong-Grong merupakan nama sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten tersebut.

Caluk berasal dari bahasa lokal yang bermakna cocol.

Mi caluk menggunakan olahan mi kuning yang terbuat dari tepung sebagai bahan utama.

Yang membedakannya dengan mi Aceh adalah bahan pelengkap.

Mi Caluk


Mi caluk Grong-Grong memakai kacang merah, tempe, hingga jengkol sebagai tambahan.

Masing-masing dimasak gulai yang menghasilkan citarasa gurih yang pas di lidah.

Sayur mayur yang diolah menjadi urap hadir untuk menemani acara meriahnya santap mi.

Rasanya juara.

Jika anda ke Grong-Grong yang berlokasi di lintas Jalan Nasional Banda Aceh – Medan, maka dengan mudah anda akan menjumpai deretan penjual mi caluk.

Kebanyakan dari mereka menjajakan dagangannya di kaki lima.

Namun pembelinya bukan hanya warga setempat, tapi juga para pelintas jalan raya yang dikenal sebagai Jalur Lintas Sumatra (Jalinsum).

Mi Caluk4


Asyiknya lagi seporsi mi caluk dijual mulai harga Rp 1.000.

Tempat ini buka mulai pukul 14.00 WIB – sore hari.

Antrian mengular ketika Tribun Travel menjajal rasa mi caluk Grong-Grong, Sabtu (22/10/2016).

Beberapa penjual terlihat sibuk meracik mi dan membungkusnya sesuai pesanan.

Mi caluk di sini tidak melayani makan di tempat.

Mi Caluk2

Namun anda bisa memesan porsi sesuai selera mulai Rp 1.000 – Rp 5.000 saja.

“Kami nggak pernah ngitung berapa porsi yang terjual setiap harinya, nggak sempat karena pembeli sudah ngatri. Meskipun harga bahan-bahan naik tapi harga mi caluk tetap sama,” ujar Hamdani, salah seorang penjual mi caluk Grong-Grong yang berjualan dibantu saudara-saudaranya.

Rata-rata penjualnya meneruskan usaha keluarga yanng diwariskan dari generasi ke generasi.

Mi caluk Grong-Grong mengajak kita berpetualang rasa sekaligus mengingatkan akan jajanan masa kecil. (*)

Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help