Ramadhan Mubarak

Puasa pada Masa Kerajaan Aceh

SELEBRASI menyambut puasa Ramadhan di Aceh tempo doeloe dan sekarang, tampak tak jauh

Puasa pada Masa Kerajaan Aceh

Oleh M. Adli Abdullah, SH, MCL Dosen Fakultas Hukum Universitas  Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.  Email: bawarith@gmail.com

 SELEBRASI menyambut puasa Ramadhan di Aceh tempo doeloe dan sekarang, tampak tak jauh berbeda. Menjelang Ramadhan, misalnya, ada tradisi meugang atau makmeugang. Dalam tradisi ini, setiap kepala keluarga “wajib” membawa pulang daging untuk dimasak di rumah masing-masing. Sampai sekarang, dua hari menjelang Ramadhan, pasar berjejer penjual daging, terutama daging sapi dan kerbau. Kondisi ini memperlihatkan ada hal yang khusus di Aceh. Daging merupakan sesuatu yang dibutuhkan, baik mereka yang berada dan pada level elite, maupun pada rakyat jelata.

Tidak mengherankan, kebutuhan akan daging sangat tinggi menjelang Ramadhan. Hal turut ini berimplikasi pada harga. Sebagaimana hukum permintaan dan penawaran, biasanya harga barang akan menyesuaikan dengan kebutuhan. Masyarakat yang membutuhkan daging akan membeli daging, walau dengan harga yang setengah menjerit. Sampai-sampai ada kesan dari orang luar, bahwa untuk melihat harga daging tertinggi, maka Acehlah tempatnya dan menjelang puasalah waktunya.

Sebenarnya pemerintah Aceh sudah mengeluarkan edaran harga daging terjangkau oleh masyarakat. Dalam kenyataan, edaran sepertinya tidak berlaku. Pengawasan kurang. Kemudian mereka yang menyediakan daging juga berangkat dari modal yang dikeluarkan dan estimasi untung. Semua perpaduan ini menyebabkan harga tetap seperti sebelumnya; tertinggi di Indonesia.

Kondisi ini yang membedakan dengan zaman dulu. Apalagi masa dulu, Aceh swasembada kerbau yang dikenal dengan keubeue Aceh. Kerbau menjadi komoditas ekspor. Pada waktu itu, ketika makmeugang, kebutuhan daging sengaja disokong oleh kerajaan. Konteksnya ada dua: Pertama, daging tersedia dan kedua, harganya terjangkau bahkan dibagi-bagi untuk masyarakat luas dari kerajaan.

Berbeda dengan sekarang di mana kebutuhan daging bersaing antara sokongan pasar dengan rumus penjualan. Sehingga harga seperti tidak terkontrol pada masa ini.Di sinilah seyogianya pemerintah benar-benar mengatur dan mengawasi agar harga tidak melebihi dari harga yang masuk akal. Jika pemerintah tidak melakukan hal yang demikian, maka sama saja menyerahkan urusan ini kepada mekanisme pasar, yang implikasinya kepada rakyat, terutama rakyat kecil yang seharusnya bisa makan daging walau sedikit pada saat makmeugang.

Berangkat dari latar belakang itu, menarik tulisan ini ingin melihat bagaimana sesungguhnya puasa dan menjelangnya ketika masa kesultanan. Untuk mengetahui kondisi tersebut, ada sejumlah catatan sejarah yang memaparkan hal ini. Dalam disertasi Takeshi Ito (2013:218) menyebutkan bahwa pada masa kejayaan kerajaan Aceh pada abad ke-17, mazhab yang berkembang di Aceh ketika itu adalah mazhab Syafi’i. Termasuk dalam hal penentuan awal Ramadhan yang lebih diutamakan rukyah (melihat bulan), dari pada hisab (perhitungan). Sebelum puasa tiba, terdapat satu praktik masing dikenal hingga sekarang, yang dulu dilakukan oleh masa Kerajaan Aceh, yaitu makmeugang. Istilah meugang atau makmeugang adalah perhelatan khanduri pertanda masuknya bulan ramadhan. Hal ini telah ditulis oleh Frederick de Houtman, utusan Belanda yang datang ke Aceh pada Juli 1599 yang kemudian sempat ditangkap oleh Laksamana Malahayati dan menjadi tawanan Kerajaan Aceh selama satu tahun pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil (1588-1604).

 Sangat meriah

De Houtman mencatat bahwa suasana menyambut Ramadhan di kerajaan Aceh sangat meriah dan khanduri menyambut Ramadhan diadakan mulai dari istana sampai ke gampong-gampong, pertanda dimulainya puasa. De Houtmat juga sempat mencatat bahwa pada 15 Maret 1600 M, di mana pada saat itu bertepatan dengan 29 syakban semua bangsawan mengenakan pakaian indah menghadap sultan di istana. Di sana berdiri satu bangsawan dengan pangkat tertinggi (Qadhi Malikul Adil) di depan pintu istana, mengenakan pakaian jubah putih panjang dan memegang perisai bersepuh emas di tangan kirinya dan pedang yang ditarik di sebelah kanannya yang diangkat dari balik bahunya. Kemudian atas arahan Sultan --saat itu Sultan Saidil Mukammil (1588-1604), makamnya di Merduati dikenal dengan Kandang Blang-- menitahkan genderang dipukul, terompet ditiup, dan meriam ditembak ke tujuh arah mata angin pertanda dimulainya bulan suci Ramadhan (lihat; WS Unger ed. De oudste reizen van de Zeeuwen naar Oost-Indie, 1598-1604. Th Haque, 1948 hlm. 85-86).

Ada catatan pengembara Eropa lain pada 1603, S de Weert namanya, dia sempat mengamati ibadah puasa yang dilakukan oleh rakyat Aceh, di mana hanya anak-anak yang berusia di bawah sepuluh tahun diperbolehkan puasa setengah hari (puasa net-net)dan makan sebelum matahari terbenam. Sultan menurut catatan De Weert, menyediakan menu berbuka puasa untuk penjaga istana, ulama, musafir dan rakyat jelata. Walaupun orang Aceh doyan makan sirih, tetapi di bulan Ramadhan mareka berpuasa makan sirih baru dilakukan pada bulan berikutnya (bulan Syawal, pen.). Pada masa kerajaan Aceh ulama memainkan peran utama tidak hanya pada upacara penentuan puasa tetapi juga pengawal umat dalam penegakan syariat puasa. Fungsi ulama pada saat itu di samping sebagai pebimbing masyarakat juga sebagai hakim dalam penerapan hukum Islam (Takeshi Ito, 2013:220)

Berdasarkan gambaran tersebut, tampak bahwa ibadah puasa termasuk sangat istimewa di Aceh. ia sudah dipersiapkan sedemikian rupa, yang akhirnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk membersihkan diri dari berbagai dosa. Pada masa inilah momentum paling tepat untuk menjadi muslim yang hidup lurus dari berbagai kesalahan.

Dari masa dulu, kondisi ini juga sudah diceritakan Takhesi Ito. Ketika puasa, masyarakat berbondong-bondong memakmurkan masjid dengan memperbanyak amal. Bahkan bagi Takeshi Ito, penerapan syariat Islam yang ketat telah menjadikan Aceh sebagai sebuah negara Islam yang sangat berpengaruh (a very powerful islamic state) di Asia Tenggara dan pusat perdagangan di Asia (Takeshi Ito, 2013:6)

Pemakmuran masjid ini seyogianya benar-benar mencerminkan kehidupan yang sesungguhnya. Puasa bisa menjadi momentum dalam menjadikan seseorang untuk hidup sesuai amar makruf dan nahi mungkar.

Dengan demikian, Ramadhan adalah sarana yang disediakan Allah bagi seorang muslim bertaubat dan berbuat kebaikan. Marilah kita manfaatkan kesempatan emas ini untuk bertaubat. Sebab tidak ada seorang pun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan.

Dengan gambaran di atas, ada satu hal yang seyogianya menjadi iktibar bagi kehidupan masa sekarang. Mempersiapkan diri untuk puasa Ramadhan sudah dilakukan sejak masa dulu, termasuk melalui mekanisme kontrol daging, pemakmuran tempat ibadah, memperbanyak amal saleh, harus dicontohkan oleh kita pada masa sekarang ini

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved