SerambiIndonesia/

Haji Uma: PLTU Nagan Seperti Motor Tua, Kalau Mati Harus Diengkol

“Apa PLTU ini seperti motor tua, kalau sudah mati harus diengkol berhari-hari? Mohon penjelasannya Pak GM”

Haji Uma: PLTU Nagan Seperti Motor Tua, Kalau Mati Harus Diengkol
ist
Sudirman alias Haji Uma 

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Senator asal Aceh, H Sudirman, atau biasa disapa Haji Uma, ikut berkomentar soal kondisi kelistrikan di Aceh yang memprihatinkan. Haji Uma mengibaratkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya layaknya sepeda motor tua, yang apabila mati harus diengkol berulang-ulang.

Hal itu disampaikan Haji Uma dalam diskusi tentang perdagangan dengan pemerintah Aceh, beserta Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), Senin (19/6/2017) di Ruang Potensi Daerah, Kantor Gubernur Aceh. Menurutnya, kondisi PLTU yang sangat labil membuat listrik padam lebih lama. 

“Apa PLTU ini seperti motor tua, kalau sudah mati harus diengkol berhari-hari? Mohon penjelasannya Pak GM” celetuk Haji Uma, dan membuat peserta diskusi tertawa geli.

Selain itu, dia juga mengomentari pemilihan lokasi PLTU di Nagan Raya yang menurutnya tidak efisien. “Kenapa harus dibuat di Nagan kalau batu baranya diimpor dari Kalimantan? Kenapa tidak menggunakan batu bara Aceh?” tambahnya.

General Manager PLN Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi pun mengaku bahwa kualitas PLTU Nagan Raya tidak baik. Saat mesin mati, butuh waktu hingga 20 jam untuk membuat mesin PLTU kembali menghasilkan listrik. 

“Ada masalah pada sistem proteksi mesin, sehingga perlu waktu untuk membuatnya kembali normal. Mesin ini memang murah, tapi tidak andal,” kata Jefri.

Namun tambahnya, Aceh pada tahun 2018 akan memiliki listrik berkekuatan 400 MW, dengan ditambahkannya produksi di Lhokseumawe dan Krueng Raya.

Soal batu bara sebagai bahan bakar PLTU Nagan, Jefri mengaku pihaknya masih menerima pasokan dari Kalimantan. Hal itu karena nilai kalori batubara Kalimantan sudah sesuai standar.

"Batu bara lokal kalorinya masih rendah," tukasnya. (*)

Penulis: Eddy Fitriadi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help