Konversi Lahan Gambut Picu Kebakaran
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Muhammad Nur mengatakan, bahwa ada beberapa
BANDA ACEH - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Muhammad Nur mengatakan, bahwa ada beberapa penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah di Aceh. Perambahan hutan dan konversi lahan gambut menjadi perkebunan menjadi salah satu penyebab mudahnya terjadi kebakaran.
“Apa yang terjadi di Aceh Barat menjadi cacatan penting bagi pemerintah kabupaten dan provinsi. Sehingga ke depan lebih selektif dalam pemberian izin usaha perkebunan di area gambut, maupun di area penyangga air bagi kehidupan,” katanya kepada Serambi, Selasa (25/7), menanggapi masalah kebakaran hutan yang sedang mewabah.
Menurut Muhammad Nur, sekitar 960.000 hektar kerusakan hutan dan lahan disebabkan karena hutan dijadikan area pertambangan legal maupun ilegal, perkebunan rakyat maupun industri, pembangunan 44 ruas jalan dalam kawasan hutan, dan proyek energi. Kasus tersebut juga menjadi bagian dari salah satu faktor terjadinya kekeringan di Aceh.
“Hilangnya debit air sungai mengindikasikan ada persoalan di kawasan hulu. Sebagai daerah hilir, perubahan fungsi lahan gambut menjadi perkebunan merupakan faktor utama penyebab kebakaran di Aceh,” jelas aktivis lingkungan ini.
Menurutnya, lahan gambut mempunyai peran penting dalam menjaga siklus air di rawa. Di samping itu, tambahnya, lahan gambut juga mempunyai daya menahan air yang tinggi sehingga berfungsi sebagai penyangga hidrologi areal sekelilingnya dan mencegah terjadinya banjir serta kekeringan.
“Pada saat lahan gambut dikonversi menjadi lahan perkebunan, terlebih melakukan budidaya jenis tanaman monokultur, maka akan berdampak serius terhadap hilangnya fungsi alami lahan gambut tersebut. Lahan gambut akan mengering dan mudah terbakar,” ungkap Direktur Eksekutif Walhi Aceh itu.
Menurutnya, bencana kebakaran saat ini sudah berdampak serius bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Udara menjadi tidak sehat yang menyebabkan terganggunya pernapasan. Selain itu, juga berdampak juga terhadap pelayanan pendidikan, perekonomian warga, dan rusak lahan pertanian.
M Nur juga menyampaikan bahwa wilayah barat-selatan Aceh merupakan wilayah yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan setiap tahun. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut memiliki area gambut dan hutan semak belukar dalam hamparan besar. Berdasarkan peta potensi yang dikeluarkan oleh BMKG, di wilayah barat-selatan Aceh masuk kategori mudah terbakar.
Berdasarkan analisis Walhi Aceh, hingga akhir Juli 2017 tersebar 35 titik panas di delapan kabupaten/kota di Aceh. Titik panas terbanyak berada di Aceh Barat 12 titik dan Nagan Raya 11 titik. Sedangkan Aceh Besar, Aceh Jaya, serta Aceh Tengah, masing-masing terdapat tiga titik, begitu juga di Aceh Singkil, Gayo Lues, dan Subulussalam, masing-masing satu titik.(mas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kebakaran-lahan-gambut-di-desa-seuneubok-teungoh_20170723_071145.jpg)