Ayah-Ibu Bantah Aniaya Salsa
Pasangan suami istri (pasutri) Saiful Ikhwan (41) dan Cut Ainul Mardiyah (31) membantah telah menganiaya
* Lukanya karena Jatuh dari Sepmor
SIGLI - Pasangan suami istri (pasutri) Saiful Ikhwan (41) dan Cut Ainul Mardiyah (31) membantah telah menganiaya bocah bernama Salsa Sabila (2,5). Luka memar di wajah dan di sekujur tubuh Salsa, menurut pasutri itu, bukan bekas penganiayaan, melainkan karena jatuh dari sepeda motor.
Saiful Ikhwan merupakan ayah tiri dari Salsa Sabila, sedangkan dan Cut Ainul Mardiyah merupakan ibu kandungnya. Ayah kandung Salsa sudah meninggal.
Saat ini, Saiful Ikhwan dan Cut Ainul Mardiyah masih tinggal di Gampong Krueng Seukek, Kecamatan Tangse, Pidie. Jadi, tidak benar seperti diisukan bahwa pasutri itu sudah lari ke Sumatera Barat (kampung asal Saiful Ikhwan) dengan meninggalkan Salsa di Rumah Sakit Umum (RSU) Sigli di Pidie.
Sabtu (19/8), Serambi bersama Ketua KNPI Pidie, Teuku Syawal dan personel Polsek Tangse mengunjungi rumah yang ditempati pasutri Saiful Ikhwan-Cut Ainul Mardiyah di Gampong Krueng Seukek. Gampong itu jaraknya sekitar 48 kilometer dari Sigli, ibu kota Pidie. Untuk sampai ke rumah pasutri ini pengunjung harus menempuh perjalanan 1 kilometer dari ruas jalan Tangse-Geumpang. Jalan tersebut sedikit menanjak dengan kondisi sebagian rabat betonnya telah hancur.
Sesampai di Gampong Krueng Seukek, Serambi dan awak KNPI disambut Keuchik Krueng Seukek, Syukri Sulaiman, bersama warganya. Beberapa saat kemudian muncul pula Saiful Ikhwan dan Cut Ainul Mardiyah. Mereka menyalami semua tamu yang datang ke gampong tersebut.
Pasutri itu tak lagi tinggal di rumah kontrakan sejak kasus dugaan penganiayaan terhadap Salsa menjadi perhatian publik. Kini, keduanya menumpang di rumah permanen milik Hj Aisyah yang jaraknya sekitar 150 meter dari rumah kontrakannya. Dari rumah Nuraini (40), kakak kandung Cut Ainul Mardiyah, jaraknya hanya 60 meter.
Cut Ainul kepada wartawan, Minggu (19/8) mengatakan, ia tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap anak kandungnya bernama Salsa Sabila. Bocah berumur 2,5 bulan itu merupakan hasil perkawinannya dengan Arif, suami keduanya asal Padang (Sumbar) tapi telah meninggal. Suami keduanya meninggal sejak usia Salsa tiga bulan dalam kandungan.
Sejak suaminya meninggal ia menjadi tulang punggung keluarga untuk membesarkan Salsa dan dua anak lagi dari suami pertama yang telah bercerai. “Jadi, tidak mungkin saya menyiksa buah hati saya itu. Kalau saya pukul anak saya, tentulah saya tidak akan mengantarnya ke rumah sakit,” jelas Cut Ainul yang kini berbadan dua.
Menurut Cut Ainul, Salsa diserahkan kepada Nuraini, kakak kandungnya, untuk teman bermain. Soalnya, Nuraini tidak memiliki anak kecil. Ia hanya memiliki satu anak perempuan yang kini telah remaja. Sejak penyerahan itulah ia mendengar isu bahwa memar di tubuh Salsa disebabkan serangan cacar api.
“Saya serahkan Salsa karena faktor ekonomi. Kami ini orang miskin, ingin mencari rezeki di Tangse, sebab kami sulit mencari rezeki di Padang. Tapi, sesampai di sini kami dituduh pula menganiaya anak saya sendiri. Allah yang mengetahuinya. Jika ada yang mengatakan anak itu trauma pada saya, itu tidak betul,” kata Cut Ainul yang mengaku merantau ke Padang tahun 2004.
Ia jelaskan, Salsa menderita patah tangan kiri akibat terjatuh dari sepeda motor saat dibawa Nuraini dengan suaminya Tarmizi (abang ipar Cut Ainul) ke Pustu Blang Malou, Kecamatan Tangse. Saat itu, kondisi Salsa mulai gawat dengan badan telah membiru. Apalagi sudah satu minggu Salsa tak mendapat perawatan medis setelah terjatuh dari sepeda motor.
Kemudian, saat dibawa ke Puskesmas Tangse, pihak puskesmas tak mampu menangani, sehingga Salsa dirujuk ke RSU Tgk Chik Di Tiro Sigli.
“Dari hasil rontgen di RSU itu saya tahu bahwa anak saya itu mengalami patah tangan. Sejumlah warga di RSU menuduh saya telah menganiaya anak saya. Abang ipar saya juga minta saya pergi jauh dari RSU. Karena ditaku-takuti abang ipar saya, sehingga saya bersama suami pergi ke Pantonlabu, Aceh Utara. “Kemudian, karena saya merasa tidak bersalah, maka kami pulang lagi ke Tangse,” jelasnya.
Sementara itu, Saiful Ikhwan mengungkapkan bahwa dirinya tak pernah menganiaya anak tirinya, Salsa Sabila. “ Kalau saya menganiaya Salsa dari kemarin saya tidak di sini lagi, saya sudah melarikan diri. Saya tidak gila, tidak mungkin saya membunuh dia, Bang. Dia juga anak bagi saya,” kata Saiful yang tak fasih bicara berbahasa Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bocah-salsa-sabila-terlihat-ceria-dalam-pangkuan-perawat_20170821_113624.jpg)