SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Myanmar Teroris tak Berjanggut

Jika berkaca kasus-kasus Rohingya, muslim Arakan adalah korban dari ekstrimisme Budha di Myanmar

Myanmar Teroris tak Berjanggut
Kritik kepada Konselor Negara dan Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi karena pembiaran pelanggaran HAM di Rakhine. (Dursun Aydemir - Anadolu Agency) 

ROHINGYA kembali berduka, hampir 400 orang tewas dalam pertempuran di Myanmar barat laut selama sepekan terakhir. Ribuan orang menyeberang ke perbatasan menuju Bangladesh dengan satu harapan, selamat.

Kekerasan terhadap muslim Rohingya sudah terjadi sejak lama, yang beruntung bisa berlabuh ke beberapa negara saat melarikan diri. Di Aceh, sudah sering manusia perahu Rohinya terdampar saat menuju negara ketiga untuk mencari kehidupan yang lebih aman.

Apa yang terjadi terhadap muslim Rohingya merupakan edisi kekerasan tiada akhir. Kutukuan demi kutukan dari berbagai negara muslim terhadap Pemerintahan Myanmar berlalu tanpa bekas.

Kepedihan tidak mereda, malah memuncak setelah aksi serangan Arakan Rohingya Salvation Army terhadap petugas keamanan Myanmar. Ini menjadi awal kelam dan alibi militer Myanmar untuk terus menghabisi warga Rohingya hingga punah di Arakan. [BACA: ‘Myanmar Ingin Menumpas Habis Muslim Rohingya’]

pengungsi Rohingya [STR/AFP/Getty Images]
pengungsi Rohingya [STR/AFP/Getty Images] ()

Meskipun PBB telah meminta militer menjaga keamanan penduduk sipil, tetapi di lapangan justru warga sipil menjadi bulan-bulanan militer Rohingya. Pada beberapa kesempatan ekstrimis Budha pun ikut menjadi bagian menyerang, mengusir warga muslim.

Kita prihatin akan hal ini, banyak sudah organisasi kemanusiaan mengutuk dan meminta Pemerintah Myanmar menghentikan perburuan bangsa Rohingya.

Bahkan, tokoh peraih nobel perdamaian Myanmar Aung San Suu Kyi pun tidak bicara dan diam seribu bahasa melihat Arakan bergejolak. Ia tak merespons pembantaian atas bangsa Rohingya yang terjadi di depan matanya.

Menyimak kekinian di Rohinya, rasanya pantas kita menerjemah ulang bahkan menegas kembali makna teroris. Jika prase ini lama disemat pada muslim di dunia, akibat frame media selama ini, maka kekerasan di Myanmar oleh militer dan 'dibantu' ekstrimis Budha layak dikatakan sebagai sebuah aksi terorisme. 

Patut kita renungkan kembali pemaknaan ini, pemaknaan teroris, radikalis,dan ekstrimis untuk mereka yang sadis membunuh anak bangsanya sendiri.

Frame media memang sering tidak adil dalam pemakaian kata teroris dan radikalisme yang disemat kepada umat Muhammad Saw.

Halaman
123
Penulis: ariframdan
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help