Unsyiah Pusat Literasi di Aceh

Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr Hizir Sofyan, mendeklarasikan

Unsyiah Pusat Literasi di Aceh
Dok. DAAD
Dr Hizir Sofyan 

BANDA ACEH - Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr Hizir Sofyan, mendeklarasikan Unsyiah sebagai Pusat Literasi di Aceh. Pendeklarasian itu dilakukan dalam Seminar Nasional di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Senin (30/10).

Dalam sambutannya, Dr Hizir mengatakan, Unsyiah harus jadi motor terdepan dalam menggerakkan budaya literasi di Aceh. Nama Unsyiah yang diambil dari salah seorang ulama karismatik di Aceh (Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala), kata dia, menunjukkan bahwa Unsyiah sangat cocok menjadi penggagas sekaligus penggerak literasi di Serambi Mekkah.

“Sekarang Perpustakaan Unsyiah sudah bisa diakses secara online. Banyak buku yang bisa didapat di Unsyiah. Rating pembaca di Perpustakaan Unsyiah pun setiap hari meningkat. Bukan hanya kalangan mahasiswa Unsyiah, tapi juga dosen, siswa, dan mahasiswa dari luar banyak yang berdatangan ke Perpustakaan Unsyiah. Tinggal ke depan, budaya baca ini kita perkuat dengan budaya tulis, sehingga budaya literasi benar-benar menyala dari sini, dari kampus Jantong Hate Rakyat Aceh ini,” ujarnya.

Deklarasi Unsyiah sebagai Pusat Literasi Aceh ditandai dengan penabuhan rapa-i oleh Hizir mewakili Rektor Unsyiah, didampingi Kepala Pembinaan dan Pengembangan Badan Bahasa Jakarta, Prof Dr Gufron Ali Ibrahim MS dan Satria Darma sebagai tokoh literasi nasional yang juga penggagas literasi masuk sekolah. Selain itu, disaksikan oleh guru besar Universitas Sumatera Utara (USU), Dekan FKIP Unsyiah, dosen FKIP, dan ratusan mahasiswa.

Ketua Jurusan Bahasa Indonesia FKIP Unsyiah, Dr Mohd Harun MPd mengatakan, Aceh sebenarnya adalah pusat literasi Nusantara. “Hamzah Fansyuri adalah yang memopulerkan bahasa Melayu di Nusantara. Karena itu, Aceh sangat layak menjadi pusat literasi Nusantara. Tinggal kita saja yang hidup di zaman sekarang, mau tidak?” ujarnya.

Selain menghadirkan pembicara utama dari ibu kota dan berbagai provinsi, kegiatan tersebut juga diisi oleh sejumlah pamateri lokal, baik dari kalangan guru maupun dosen. Pemateri panel tersebut antara lain Mohd Harun yang mengangkat budaya literasi di sekolah, Azwardi yang memaparkan hasil penelitiannya terhadap budaya literasi sang kombatan GAM, Herman RN yang mengangkat sejarah literasi dalam dimensi Islam, dan beberapa nama lain.(dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help