SerambiIndonesia/

Hari Pahlawan

Presiden Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada Keumalahayati

Presiden Jokowi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Laksamana Keumalahayati

Presiden Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada Keumalahayati
PRESIDEN Joko Widodo menyerahkan tanda jasa kepada ahli waris almarhumah Laksamana Malahayati (dua kiri) saat penganugerahan gelar pahlawan diIstana Negara, Jakarta, Kamis (9/11). 

JAKARTA - Presiden Jokowi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Laksamana Keumalahayati. Plakat tanda jasa dan gelar pahlawan diberikan Presiden kepada Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur’alam, ahli waris Laksamana Keumalahayati dan sekaligus penerus Kesultanan Aceh Darussalam.

Upacara penganugerahan gelar pahlawan itu diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/11). Dihadiri oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Anggota DPR RI asal Aceh, Teuku Riefky Harsya, Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM, dan penulis sejarah Aceh, Pocut Haslinda Syahrul yang juga ibunda Teuku Riefky Harsya.

Selain kepada Laksamana Keumalahayati, gelar pahlawan nasional juga diberikan kepada tiga tokoh lainnya, yakni almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah dari Provinsi Kepulauan Riau, dan almarhum Lafran Pane (Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam) dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penganugerahan gelar pahlawan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Gubernur Irwandi mengaku bangga dan gembira bahwa dari 13 pahlawan perempuan di Indonesia, tiga di antaranya berasal dari Aceh, yakni Laksamana Keumalahayati, Tjoet Njak Dhien, dan Cut Meutia. “Seharusnya yang pertama mendapat gelar pahlawan adalah Keumalahayati, karena perjuangannya lebih awal, yakni di abad ke-16,” kata Irwandi Yusuf.

Menurut Irwandi, dengan telah ditetapkannya Keumalahayati sebagai pahlawan nasional, maka kompleks makamnya di Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, akan segera dipugar menggunakan dana APBN. “Kita segera lakukan pemugaran,” ujarnya.

Tahun berikut, lanjut Irwandi, akan diajukan pejuang Aceh lainnya sebagai pahlawan nasional, yaitu Sultan Alaidin Mahmudsyah II yang berani menolak ultimatum perang oleh Belanda pada 26 Maret 1873. “Di masa Sultan Alaidin pula Jenderal Kohler tewas ditembak pejuang Aceh di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh,” kata Irwandi Yusuf.

Wakil rakyat Aceh di DPR RI, Teuku Riefky Harsya memberi apresiasi kepada pemerintah yang telah sigap menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Keumalahayati. “Untuk ini kita berterima kasih kepada Kongres Wanita Indonesia atau Kowani yang bekerja keras mengusulkan masuknya nama Keumalahayati, serta Pemerintah Aceh yang telah merekomendasikannya,” ujar Riefky Harsya.

Ia ingat betul, Kowani bersikeras mengajukan nama Keumalahayati dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X yang diketuai Teuku Riefky. “Seluruh fraksi kemudian mendukung usulan Kowani itu,” kenang Riefky.

Laksamana Keumalahayati adalah Panglima (Admiral) Aramada Laut Kerajaan Aceh. Lahir pada 1550 dan meninggal pada 1615. Ia memimpin 2.000 pasukan (inong balee) melawan Portugis. Ia dimakamkan di Lamreh, Aceh Besar.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help