Citizen Reporter
Menyantap Tiram di Hiroshima
SAYA berada di Jepang menghadiri seminar dua hari yang dilaksanakan Hiroshima Active Peacebuilding Research Inisiative
OLEH MUNAWAR LIZA ZAINAL, mantan juru tunding GAM di Helsinki dan mantan wali kota Sabang, melaporkan dari Hiroshima, Jepang
SAYA berada di Jepang menghadiri seminar dua hari yang dilaksanakan Hiroshima Active Peacebuilding Research Inisiative (HiPeC) yang dinakhodai Profesor Yoshida Osamu, Guru Besar pada Graduate School Hiroshima University. Seusai sesi seminar, kami diajak untuk ikut program Miyajima Excursion selama sehari penuh.
Pagi-pagi pukul 07.40 waktu setempat kami sudah berkumpul di lobi tempat kami menginap, Higashi Hiroshima Green Morris Hotel. Setelah sebelumnya sarapan pagi, kami mulai berjalan menuju Stasiun Saijo. Menurut Ms Mariko, pengantar kami dari Hiroshima University, cuma 15 menit saja berjalan kaki. E, rupanya lumayan jauh. Karena membawa beban berat badan hampir 100 kilogram, saya melangkah lebih lambat dibanding teman-teman yang lain. Akhirnya, dalam 20 menit kami sampai juga ke stasiun yang dituju. Sesampai di sana, kami beli tiket kereta ke arah Kota Hiroshima.
Sepanjang perjalanan, pemandangan yang tersaji berupa hutan-hutan kecil, kebun, rumah-rumah yang tidak begitu beda dengan negara lain. Bedanya cuma pembangunan di sini sangat menyatu dengan alam. Jalan agak berliku mengikuti kontur tanah, rumah dibangun tidak terlihat angkuh dengan beton, tapi asri karena sebagian terbuat dari kayu.
Beda dengan di tempat kita, membangun rumah harus besar, pagar tinggi, bahkan kadang-kadang memakan badan jalan milik publik. Di sini, pagar justru dibuat dari kayu, semuanya terkesan asri, apalagi atapnya terbuat dari bahan-bahan tradisional. Tebing-tebing ditata rapi, tidak diberonjong atau dibuat talud secara serampangan. Memang alam yang keras dan dingin bersalju, membuat masyarakat Jepang bersahabat dengan lingkungan.
Sesampai di Hiroshima Station, kami naik Hiroden tram, transportasi dalam kota yang sangat nyaman. Pelan tapi santai. Dalam 15 menit kami sampai di sebuah taman yang rindang dan asri, daun-daun sudah memerah dan menguning, tanda musim gugur akan segera tiba menyambut salju. Dalam taman itu, ada sebuah bangunan yang tinggal reruntuhan, dinding dari semua sisinya hancur, ada sebuah kubah di atasnya. Kubah itu tinggal besi yang mengginas. Itulah Atomic Bom Dome atau Dome-Mae, saksi nyata bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima pada pukul 08.15 pagi tanggal 6 Agustus 1945 yang meluluhlantakkan kota, sehingga menyisakan puing-puing. Bangunan berkubah ini menjadi salah satu World’s Cultural Heritage, Warisan Kebudayaan Dunia.
Di sekitarannya ada taman, dinamakan Peace Park, Taman Perdamaian. Di dalamnya ada beberapa monumen yang didedikasikan kepada para korban pengeboman itu.
Di ujung taman ada sebuah museum, kami pun beranjak ke sana. Museum berlantai tiga ini memuat dengan lengkap kisah kota, sejak dari sebelum pengeboman, saat detik-detik Presiden Amerika Serikat saat itu mengambil keputusan penyerangan, kisah bom atom, sampai kemudian gambar-gambar dan sisa-sisa barang yang selamat dari pengeboman.
Di lantai dua, memuat informasi lengkap tentang bom atom. Puluhan siswa-siswi Jepang dengan buku dan pulpen di tangan, dengan serius membaca dan menonton video dan audio tentang itu. Sepertinya setiap sekolah di Jepang mewajibkan siswanya untuk datang mengunjungi museum tersebut.
Lepas dari museum, kami meneruskan perjalanan ke dermaga kapal feri Motoyasu untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Miyajima. Perjalanan dari sungai menuju muara kemudian lanjut ke Miyajima memakan waktu sekitar 45 menit. Pemandangan keliling agak tertutup sebab kapal yang membawa kami terlalu rendah dan kami duduk di jendela kaca yang berkabut.
Ketika mendarat, terasa seperti di Sabang, ada kemiripan topografinya. Suasana mirip seperti Sabang, tetapi lautnya kotor tidak sebening laut Sabang, namun bangunan dan jalan setapak serta tanggul sangat luar biasa. Puluhan rusa liar terlihat menyatu dengan ratusan turis yang lalu lalang di depan pelabuhan.
Dari pelabuhan, kami menyusuri pantai sekira 500 meter, tiba-tiba di laut terlihat bangunan merah dari kayu berbentuk gerbang. Itulah torii, the Grand Gate, bangunan sejauh 200 meter ke dalam laut, tinggi sekitar 16 meter dengan berat sekitar 60 ton. Saat laut pasang, bangunan itu seperti mengapung, kalau gelombang surut, pengunjung bisa mendatangi sampai ke kaki gerbang itu. Menurut keyakinan orang Jepang, warna gerbang itu untuk menjauhkan roh jahat dan gerbang itu dianggap sebagai pembatas antara kehidupan roh dengan kehidupan manusia.
Tepat di hadapan gerbang tersebut, ada sebuah kuil, bernama Itsukushima. Kuil dengan gerbang ini juga masuk ke dalam list Unesco sebagai World’s Cultural Heritage.
Setelah berkeliling dan mengambil beberapa foto, kami mencari restoran. Makanannya hampir semua seafood. Menu utama Hiroshima adalah ‘tirom’. Tiram (oyster) diolah berbagai rupa. Digoreng dengan tepung, dimakan mentah-mentah, dibuat sup dengan telur bahkan ada yang dibuat seperti bakso bakar. Memang kota ini dikenal dengan julukan “Kota Tiram”. Saya terbayang betapa banyak tiram di Aceh, tapi kita kurang kreatif mengolahnya, sehingga belum begitu banyak variannya jika ingin dijadikan kuliner andalan.
Selepas makan siang, kami melanjutkan ke tempat lain yang menjadi destinasi wisata, yaitu Daish -in Shrine, harus naik tangga beberapa ratus undak untuk tiba di gerbangnya. Kawasan ini termasuk pilihan wisatawan, karena ada sungai kecil dengan jembatan dan banyak tumbuh pohon maple yang berdaun warna-warni di saat musim gugur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/munawar-liza-zainal_20171117_112921.jpg)