Breaking News
Jumat, 17 April 2026

Citizen Reporter

Sikap Cerdas Indonesia Bangun Hotel di Pusat Peradaban Islam

Di tengah hiruk pikuk politik global dan dinamika ekonomi yang tidak menentu, Indonesia baru saja menorehkan tinta emas

Editor: mufti
IST
Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, melaporkan dari Makkah Almukarramah 

Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, melaporkan dari Makkah Almukarramah

Di tengah hiruk pikuk politik global dan dinamika ekonomi yang tidak menentu, Indonesia baru saja menorehkan tinta emas dalam diplomasi internasional. Bukan melalui jalur konvensional pertemuan bilateral semata, melainkan melalui terobosan investasi yang menyentuh langsung denyut nadi umat Islam dunia. Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia, di bawah komando CEO Rosan Roeslani, secara resmi mengumumkan akuisisi aset strategis di kota suci Makkah. Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis, ini adalah perwujudan kecerdasan kolektif bangsa dalam merawat jemaah, membangun peradaban, dan menanam modal jangka panjang di pusat gravitasi spiritual dunia.

Prospek membangun hotel dekat Masjidil Haram di Makkah bakal jadi nilai tambah besar buat jemaah haji dan umrah Indonesia, yaitu bisa dapat akomodasi yang nyaman, dengan standar pelayanan Indonesia, dekat sekali dengan Kakbah. Ini juga bisa jadi simbol kehadiran Indonesia di tanah suci.

Secara ekonomi, investasi ini jelas menguntungkan. Makkah itu pusat wisata religi dunia, permintaan akan kamar hotel selalu tinggi. Jadi, potensi profitnya besar. Plus, bisa menciptakan lapangan kerja dan transfer pengetahuan perhotelan syariah.

Tentu ada tantangannya, seperti perizinan, lokasi strategis yang terbatas, dan persaingan ketat. Namun, dengan negosiasi yang tepat dan visi jangka panjang, hotel Indonesia di Makkah bukanlah mimpi, melainkan bisa menjadi kenyataan yang membanggakan dan bermanfaat bagi umat Islam khususnya.

Bukan sekadar hotel Data dan fakta berbicara jelas. Danantara tidak hanya membeli satu bangunan, tetapi juga mengamankan ekosistem pelayanan jemaah.

Pada pertengahan Desember 2025, Danantara mengumumkan kesepakatan akuisisi yang mencakup Novotel MakkahThakher City, sebuah hotel berkapasitas 1.461 kamar yang tersebar di tiga menara, serta 14 bidang tanah dengan total luas sekitar 4,4 hektare di kawasan Thakher City.

Lokasinya pun sangat strategis, hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram dan terhubung melalui terowongan langsung yang telah selesai dibangun.

Namun, kecerdasan langkah ini tidak berhenti di situ. Danantara merancang pengembangan bertahap hingga mencapai kapasitas sekitar 6.000 kamar yang mampu menampung sekitar 22.000 jemaah atau setara dengan 10 persen dari total Jemaah haji Indonesia setiap tahunnya.

Yang lebih fenomenal adalah rencana pengembangan lahan seluas 32 hektare yang hanya berjarak 600 meter dari Masjidil Haram, yang saat ini masih dalam proses tender oleh Royal Commission for Makkah City and Holy Sites (RCMC).

Bayangkan, memiliki aset di wilayah yang setiap meter perseginya diperebutkan oleh umat Islam dari seluruh dunia.

Kecerdasan investasi 

Mengapa langkah ini disebut sebagai sikap yang cerdas? Setidaknya, ada tiga dimensi yang patut kita cermati.

Pertama, kecerdasan diplomatik dan strategis. Keberhasilan ini tidak datang tiba-tiba. Ini adalah hasil dari lobi tingkat tinggi Presiden Prabowo Subianto kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Momen krusialnya adalah ketika Arab Saudi secara khusus mengubah undang-undangnya untuk mengizinkan kepemilikan tanah dengan status ‘freehold’ (hak milik) bagi pihak asing di Makkah, sebuah kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved