Sabtu, 11 April 2026

Citizen Reporter

Filipina, Neraka bagi Perokok  

JIKA Indonesia adalah surga bagi perokok, maka Filipina adalah saudara tiri dalam dunia isap-mengisap tembakau

Editor: bakri
AL CHAIDAR 

OLEH AL CHAIDAR MA, Staf Pengajar Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, melaporkan dari Manila, Republik Filipina

JIKA Indonesia adalah surga bagi perokok, maka Filipina adalah saudara tiri dalam dunia isap-mengisap tembakau. Tepatnya, Filipina adalah neraka bagi perokok. Tidak mudah menemukan smoking area (ruang merokok) di negara yang penuh dengan asap mesiu peperangan ideologis antara dunia liberal kapitalis di utara dengan kutub kekuatan spiritual Islam di selatan ini.

Saya empat hari lalu tiba di Manila. Saya datang pada saat yang tepat, saat Manila dan beberapa kota lainnya diliburkan karena ASEAN Summit Meeting di mana kepala negara beberapa negara adidaya datang berhadir di neraka tak berasap (smokeless hell) ini.

Mereka datang dengan sejumlah agenda membahas beberapa hal yang mereka anggap penting, sementara beberapa hal lainnya: hanya saya dan tim yang menganggapnya penting. Saya dan tim—dari Departemen Antropologi Universitas Malikussaleh, dari Lhokseumawe, Aceh yang berada di ujung barat Indonesia—datang untuk meneliti situasi dan prospek keamanan Laut Sulu dan Laut Sulawesi sebagai sesuatu yang penuh harapan kegemilangan bagi kaum yang percaya dengan agama.

Sementara delegasi ASEAN Summit Meeting datang membahas hal-hal baru yang milenial bagi kaum sekuler yang penuh bergelimang hal-hal yang profan (tak bersangkutan dengan agama atau tujuan keagamaan).

Sebagai perokok sejati, saya kecewa luar biasa ketika hendak menyalakan rokok setelah makan siang atau makan malam di Manila. Kafé-kafé di sini berbeda jauh dengan kafé di Aceh di mana kita bisa merokok sepuas hati dan menyemburkan asapnya ke mana saja ke seluruh penjuru mata angin. Namun di Manila, juga di beberapa kota lainnya, mereka telah sampai pada titik kesimpulan yang aneh—dan menurut saya sangat melanggar HAM para perokok—di mana semua restoran, kantin, ministop, dan convenient store tidak lagi menyediakan tempat bagi perokok.

Di sini pula saya tidak bisa temukan rokok kretek yang bagi orang Indonesia sudah melekat dalam budaya dan tulang sumsum kepercayaan tradisionalnya. Orang Indonesia sudah sulit melepaskan diri dari kebiasaan mengisap kretek, herbal yang penuh khasiat bagi para penarik dan pengepul asap.

Saya kira, saya tidak bisa hidup lebih lama di Manila ini. Semua orang kelihatannya menganggap bahwa perokok adalah orang yang kurang beradab (uncivilized) meskipun banyak perokok adalah orang-orang sipil tak bersenjata dan tak terlibat dalam konflik ideologis yang berdarah-darah seperti di Marawi atau tempat lainnya di Filipina.

Mereka, kaum milenial yang tidak merokok itu, mengira sudah hidup di alam baka tanpa kepulan asap rokok dan mengira sudah sukses mengusir para perokok ke sudut-sudut gelap yang penuh kehinaan.

Toko-toko atau kios-kios (ministop, convenient store) di Manila masih menjual rokok sebagai display (tampilan) utama toko yang membuatnya tampak indah, rapi, dan estetis. Tapi ke manakah gerangan para pengisap rokok tersebut bersembunyi setelah mereka berhasil membeli rokok? Ternyata banyak di antara mereka merokok di tempat-tempat terbuka (open-space) yang kurang nyaman. Mereka merokok di tempat-tempat yang tidak terperi: di sudut-sudut taman, di belakang tangga, di sebelah toilet, di samping areal parkir, atau di sudut ruang tak terpakai dari jalanan publik. Betapa mengenaskan situasi begini bagi perokok.

Merokok sudah dianggap tidak beradab oleh dua pihak yang saling berseteru di Filipina: pihak Islam di selatan dan pihak Katolik di utara. Keduanya bersekongkol untuk membenci para perokok. Sudah empat hari sebungkus rokok yang berisi 16 batang kretek yang eksotis aromanya itu belum habis juga saya isap. Biasanya, kalau berada di Aceh atau tempat lainnya di Indonesia, saya bisa menghabiskan enam bungkus dalam tiga hari petualangan mencari inspirasi yang penuh kepulan aspirasi, seakan berada di surga walau tanpa dendayang.

Penghuni kota yang sangat maju ini kemungkinan adalah orang-orang yang hidup sehat tanpa merokok. Manila memang penuh macet oleh para komuter yang hiruk pikuk berjejal di dalam jeepney (angkot khas warisan kolonial Amerika).

Dulu, rokok adalah hal biasa di sini, namun seiring bertambahnya penduduk, banyak manusia di sini tak lagi bisa toleran terhadap para perokok yang asap rokoknya terbang ke sana-kemari, melintasi posisi fisiknya yang terbatas. Manila adalah kota dengan temperatur yang panas dan humiditas yang tinggi dan memang tidak nyaman bagi orang-orang jika ada yang merokok.

Manila adalah kota dengan perencanaan spasial bergaya Barat yang sangat modern, maju, dan tertata rapi. Kampus-kampusnya luas dan asri dengan pepohonan yang sangat menyejukkan hati seperti di Bukit Loyola, Kotamadya Diliman. Namun, jangan berharap kita bisa nikmati rokok di bawah pohon yang rindang dan penuh oksigen tersebut. Anda hanya mungkin merokok di balik semak yang tak terlihat oleh mata para akademisi neolib yang selalu penuh curiga terhadap perokok.

Saya menangkap kesan, para akademia di sini lebih curiga terhadap para perokok ketimbang terhadap teroris. Perokok, setidaknya dalam pandangan mereka adalah kaum perusak dividen pembangunan: mengisap kenikmatan, menyemburkan penyakit dan virus ke mana-mana, menikmati indahnya infrastruktur, dan terkadang tanpa sengaja membakar properti karena membuang puntung yang masih membara.

Manila adalah neraka bagi perokok. Sepertinya negara ini tidak berharap apa-apa dari industri dan pertanian tembakau. Lantas, tanpa rokok di bibir, dari manakah para intelektualnya mendapatkan inspirasi menulis tentang banyak hal yang sangat brilian itu?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved