Bumi Bersin, Itulah Tsunami
“Bumi Sudah Tua”, itulah ungkapkan yang disampaikan Ir Faizal Adriansyah M SI dalam tausiahnya pada peringatan
BANDA ACEH - “Bumi Sudah Tua”, itulah ungkapkan yang disampaikan Ir Faizal Adriansyah M SI dalam tausiahnya pada peringatan ke-13 Tsunami Aceh di halaman Masjid Al-Ikhlas Gamping Meunasan Masjid Masjid, Kecamatan Leupeng, Aceh Besar pada Selasa (26/12).
Faizal mentamsilkan seperti seseorang yang sudah berusia lanjut, maka kerap diserang berbagai jenis penyakit, seperti batuk atau juga bersin, termasuk badan pegal-pegal. “Bersinnya Bumi, itulah tsunami dan batuknya Bumi, itulah letusan gunung berapi, seperti Gunung Agung yang belum selesai batuknya sampai saat ini,” katanya.
Dia menjelaskan peringatan 13 Tahun Tsunami Aceh dengan tema: “Jangan Pernah Lupakan Sejarah, Gempa dan Tsunami Aceh.” harus terus diperingati. Dia menyatakan masyarakat pesisir Aceh sudah mulai melupakan tsunami, sehingga peringatan tsunami ini harus terus dilaksanakan,
“Anak-anak yang saat ini berusia 10 atau 12 tahun, tentunya tidak mengetahui tsunami pernah menerjang Aceh, begitu juga anak-anak saat tsunami terjadi berusia 4 tahun, tentunya tidak mengingat lagi adanya bencana itu,” ujarnya.
Pakar Geologi ini ini menyatakan tema “Melawan Lupa, Bangun Kesadaran Masyarakat Bangun Menuju Budaya Siaga Bencana” harus terus dibangun. Faizal yang menyampaikan tausiah dengan bahasa mudah dicerna menyatakan melawan lupa harus dibangun menjadi kearifan lokal.
Dia mencontohkan, masyarakat kepulauan Simeulue yang menyebut tsunami dengan smong terus menjaga kearifan lokal terhadap bencana alam, seperti tsunami. Disebutkan, saat tsunami 26 Desember 2004, tidak ada ada korban di Simeulue, tetapi di pesisir Aceh mencapai seratusan ribu orang dan menjadi bencana alam terbesar dalam abad ini.
“Warga Simeulue terus menceritakan tsunami kepada anak cucunya, sehingga dapat langsung mengambil sikap, saat tanda-tanda akan terjadi bencana itu dengan lari ke tempat lebih tinggi. Sebaliknya, warga pesisir menangkap ikan saat air laut surut, padahal bencana segera muncul di depannya tanpa bisa menyelamatkan diri lagi,” tambahnya.
Faizal yang juga Kepala KPK2A IV LAN di Banda Aceh ini menyatakan tanda-tanda alam lainnya, seperti burung camar terbang tidak karuan. Begitu juga dengan binatang lainnya, seperti kuda yang tidak mau ke pinggir pantai, karena mengetahui akan ada ancaman bencana besar di depan.
Peringatan Tsunami ke-13 di Leupung itu dihadiri seratusan korban tsunami dihadiri Gubernur Aceh, Bupati Aceh Besar, anggota DPRA dan para kepala SKPA dan SKPK Aceh Besar. faizal menyatakan peringatan tsunami ini hampir sama seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Aceh, mulai dari Rabiul Awal sampai Rabiul Akhir.
Dia mengatakan peristiwa serangan tentara gajah telah terlupakan saat Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun. Sampai-sampai Allah SWT menurunkan firmannya yakni surah Al Fil ayat 1-5: (1) Apakah kami tidak memperhatikan bagaiman Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah.
(2) Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? (3) dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. (4) yang melempari mereka dengan batu berasal dari tanah yang terbakar (5) lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Ditambahkan, setelah turun surah ini, orang-orang kafir masa itu tersentak seperti terbangun dari tidur, karena selama ini peristiwa itu terlupakan seperti terbangun dari tidurnya. Generasi yang ikut menjadi saksi sudah lupa, apalagi generasi muda yang lahir jauh setelah tahun Gajah, karena sifat manusia cepat lupa.
Belajar dari pesan Allah itu, makanya peringatan 13 tahun tsunami ini sangat tepat dengan mengambil tema : “Melawan Lupa, Bangun Kesadaran Masyarakat Bangun Menuju Budaya Siaga Bencana.” Dikatakan, bencana bisa saja datang kapan saja dan banyaknya korban jiwa dan harta benda karena ketidaktahuan atas tsunami, karena tidak tahu terhadap pengurangan risiko bencana.
“Bencana tidak bisa dihindari, tetapi risikinya bisa kita kurangi,” ujarnya. Disebutkan, Provinsi Aceh dan Indonesia berada di jalur ring of fire atau cincin api, sehingga rentan bencana, seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api dan longsor. “Masyarakat tangguh adalah yang selalu siap dan siaga ketika bencana datang,” tutupnya.(muh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/para-korban-tsunami-mendengarkan-pidato-gubernur-aceh-irwandi-yusuf_20171228_091015.jpg)