700 Perawat di 3 RS belum Terima Honor

Sekitar 700 perawat dan tenaga medis yang dikontrak di tiga rumah sakit (RS) milik Pemerintah Aceh

700 Perawat di 3 RS belum Terima Honor
AZHARUDDIN,Wakil Direktur RSUZA Banda Aceh

* Dampak Molornya RAPBA 2018

BANDA ACEH - Sekitar 700 perawat dan tenaga medis yang dikontrak di tiga rumah sakit (RS) milik Pemerintah Aceh, yaitu Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA), Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), serta Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, sampai bulan Maret ini belum juga menerima honorarium bulanannya.

Para perawat dan tenaga medis itu mulai resah dan terus bertanya kepada pihak manajemen rumah sakit kapan honor bulanan mereka dibayar.

Salah seorang Wakil Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin yang dimintai penjelasannya terkait belum dibayarnya honor bulanan tenaga kontrak di rumah sakit itu sejak Januari-Maret ini kepada Serambi kemarin mengatakan, jumlah tenaga perawat dan tenaga medis yang dikontrak di RSUZA Banda Aceh ada sekitar 800 orang.

Sebanyak 300 orang sumber pembayaran honornya melalui penerimaan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang diterima RSUZA atas pelayanan kesehatan pasien JKA/JKN dari BPJS Kesehatan dan pasien nonkartu JKA/JKN. Untuk perawat yang dikontrak melalui sumber dana badan layanan umum daerah (BLUD) tersebut, honornya sudah dibayar sesuai bulan berjalan.

Sedangkan sisanya sekitar 500 orang lagi, kata Azharuddin, pembayaran honor bulanannya, dilakukan setelah pengesahan RAPBA. “Kenapa demikian, ya karena sumber pembiayaan honor mereka murni berasal dari APBA. Sampai Maret ini, RAPBA-nya kan belum juga disahkan, makanya honor mereka belum bisa dibayar,” ujarnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kata Azharuddin, pada bulan Januari RAPBA sudah disahkan dan honor 500 perawat dan tenaga medis yang dikontrak pakai dana APBA itu, paling telat dibayar awal Maret. “Pada tahun 2018 ini karena sampai Maret, RAPBA 2018 belum juga ada kejelasan kapan disahkan, kami juga belum bisa memastikan kapan bisa dibayar,” kata Azharuddin.

Informasi yang tersaji di media massa saat ini bahwa Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada Jumat pekan kemarin sudah menyampaikan bahan Pergub RAPBA 2018 kepada Mendagri. “Nah, kita harapakan Mendagri bisa secepatnya menyetujui usulan gubernur tersebut, agar RAPBA 2018 bisa secepatnya disahkan dan 500 orang tenaga perawat dan medis yang belum terima honor bulanannya sampai kini, bisa dibayar bisa segera,” katanya.

Tugas dan fungsi 500 perawat dan tenaga medis kontrak yang bekerja di RSUZA, kata Dr Azharuddin, tidak sama dengan status tenaga kontrak yang ada di Satpol PP dan WH Aceh. Kalau tenaga kontrak Satpol PP dan WH Aceh, ketika mereka dirumahkan atau dinonaktifkan dan kontraknya tidak diperpanjang, itu tidak begitu memberikan dampak signifikan terhadap pelayanan publik.

Tapi, jika 500 tenaga kontrak perawat yang ada di RSUZA dirumahkan atau dinonaktifkan, dengan dua alasan--yaitu kontrak telah berakhir dan RAPBA belum disahkan–maka pelayanan berobat dan kesehatan di sejumlah bagian di RSUZA bisa macet dan terhenti. “Risiko yang akan dihadapi dan ditanggung pihak manajemen RSUZA nanti, sangatlah besar. Makanya mereka tetap kita pekerjakan secara normal,” terang Azhar.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help