700 Perawat di 3 RS belum Terima Honor
Sekitar 700 perawat dan tenaga medis yang dikontrak di tiga rumah sakit (RS) milik Pemerintah Aceh
Pada tahun lalu, RSUZA ada melanjutkan pembangunan empat unit ruang operasi yang telah tertunda dua tahun kelanjutan pembangunannya, sebagai dampak putus kontrak. Sampai akhir tahun lalu, pekerjaannya sudah mencapai di atas 60 persen, tapi karena waktu mulainya juga terlambat akhirnya kembali dilakukan putus kontrak pada 31 Desember 2017.
Pada tahun ini, lanjut Azharuddin, sudah sampai bulan Maret, tapi belum ada tanda-tanda pekerjaannya akan dilanjutkan, dengan alasan RAPBA-nya belum disahkan. Akibatnya, jumlah pasien antrean jadi panjang. Kalau tahun lalu ada yang sampai satu bulan lebih. Tahun ini waktunya sudah tentu akan bertambah lagi.
Selain itu, pada tahun lalu RSUZA juga ada membangun rumah sakit kanker. Pelaksanaannya juga terganggu, dengan alasan kontraktornya bermasalah, sehingga dilakukan putus kontrak sampai pada realisasi pekerjaan sekitar 40 persen.
“RS kanker itu sangat kita butuhkan, untuk penanganan jumlah pasien penyakit kanker setiap tahun terus bertambah di Aceh. Kalaupun kita rujuk ke Rumah Sakit Cipto di Jakarta, antreannya sekarang ini sudah sangat panjang,” ungkap Azharuddin.
Karena itu, pihaknya berharap agar RAPBA 2018 secepatnya disahkan, supaya program dan kegiatan yang terkait dengan pengesahan RAPBA yang sudah diprogramkan kelanjutan pembangunannya tahun ini bisa berjalan. Terutama untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (her)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/azharuddin_20170801_085905.jpg)