Jernang di Sela Tanaman Kopi Hasilkan Rp 700 Juta Setahun

DUA bersaudara, Budiman dan Herman, warga Kampung Ronga-Ronga, Kecamatan Pintu Rime Gayo

Jernang di Sela Tanaman Kopi Hasilkan Rp 700 Juta Setahun
WARGA memperlihatkan pohon jernang miliknya yang sudah berbuah di Desa Timpleung, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya, Kamis (15/3). 

DUA bersaudara, Budiman dan Herman, warga Kampung Ronga-Ronga, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah bisa dikatakan sukses dengan eksperimen mereka membudidayakan jernang di sela-sela tanaman kopi.

Dari areal tanaman kopi seluas dua hektare milik Budiman bersaudara, penghasilan dari jernang mencapai Rp 700 juta setahun. Lokasi budidaya di Dusun Belang Bertona, Kampung Musara Km 58, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.

Upaya mereka membudidayakan jernang tidak mudah, termasuk menghadapi cemoohan masyarakat. Maklum saja, warga di sana beranggapan pohon berduri tersebut hanya bisa tumbuh dan berbuah di hutan belantara.

Budiman dan Herman tak peduli dengan berbagai hambatan. Mereka terus membudidayakan jernang yang dimulai tahun 2012. Kerja keras itu kini membuahkan hasil. Keuntungan yang diraih setahun mencapai Rp 700 juta lebih dengan produksi jernang 1,65 ton.

“Awalnya ketika pertama kali ingin menanam jernang di perkebunan kopi, saya selalu mendapat tertawaan dari masyarakat. Mereka cenderung sinis, karena saya dianggap menghabis-habiskan waktu menanam jernang,” kata Budiman yang tamatan SMA ini kepada Serambi, Kamis (16/3), di lokasi perkebunan jernang miliknya. Kini, banyak petani lain mengikuti langkah Budiman.

Jernang milik Budiman bersaudara dihargai Rp 400.000-Rp 470.000/kilogram. Pemasarannya sudah mencapai Jakarta, Medan, Jambi, Semarang, Lampung, dan beberapa kota besar lainnya. Selain itu, jernang miliknya juga dipasarkan di Aceh.

Budiman menanam 500 lebih batang jernang. Dengan panen bisa mencapai lima kali dalam setahun, sedangkan panen raya dua kali setahun, yakni bulan Februari dan Oktober. Setelah enam tahun menanam jernang, kini ia juga meluaskan kebunnya ke beberapa lokasi lain.

Budiman sendiri sudah bertahun-tahun menjadi pemburu jernang ke hutan belantara. Pekerjaan tersebut dia lakukan sejak 2003, ketika Aceh masih bergejolak. “Kesulitan mencari jernang ke hutan belantara menginspirasi saya untuk mengembangkannya di kebun kopi, ternyata bisa,” ujar Budiman.

Kini, banyak perwakilan pemerintah dari beberapa provinsi di Indonesia studi banding ke kebun jernang milik Budiman bersaudara. Jernang yang dibudidayakannya berkualitas tinggi, karena memiliki buah hitam pekat dan tebal. Selain itu, jika dalam bentuk resin atau dragon blood (darah naga), harga jualnya mencapai Rp 6 juta/kilogram.

Saat in Budiman sedang mengembangkan pembibitan jernang. Sudah ada 10.000 bibit yang dikembangkan. Pembibitan tersebut bukan berasal dari kecambah, namun tumbuh liar di sekitar pohon induk, yang terjatuh dari pohon.(c51)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved