SerambiIndonesia/

BBPOM dan Dinkes Razia Swalayan

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh

BBPOM dan Dinkes Razia Swalayan
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Petugas dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Banda Aceh melakukan razia ke sejumlah swalayan di Banda Aceh 

* Sasar Ikan Kaleng Bercacing

BANDA ACEH - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh, Kamis (22/3), melakukan razia ke sejumlah swalayan di Banda Aceh. Razia itu menyasar tiga merek ikan kaleng yang terbukti mengandung cacing, tapi dalam razia tersebut tidak ditemukan ikan kaleng dijual di Banda Aceh.

Amatan Serambi kemarin, petugas BBPOM dan Dinkes Banda Aceh mengawali razia di Suzuya Mall, lalu melanjutkan ke dua swalayan di pertokoan Seutui dan diakhiri di Indomaret sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Petugas ikut memeriksa ikan kaleng itu hingga ke dalam gudang penyimpanan.

Kepala BBPOM Banda Aceh, Zulkifli, didampingi Kepala Dinkes Banda Aceh, dr Warqah Helmi, mengatakan, razia dilakukan untuk menanggapi adanya temuan ikan kaleng yang mengandung cacing anisakis di beberapa daerah di Indonesia, seperti Pekanbaru dan Batam.

Untuk memastikan supaya di Aceh tidak ada dijual ikan kaleng berbahaya itu, petugas pun turun ke lapangan dan merazia swalayan secara acak. Dari empat lokasi yang didatangi, tidak ada ditemukan ikan kaleng yang ditargetkan. Pedagang mengaku tidak pernah memasukkan ikan kaleng jenis tersebut.

“Dari database swalayan, kita tidak menemukan ketiga merek ikan kaleng itu dijual, jika ke depan ditemukan akan kami amankan,” ujar Zulkifli.

Tiga merek ikan kaleng yang dinyatakan mengandung cacing yaitu IO, Farmer Kack, dan Hoki. Menurut Zulkifli, produk olahan itu merupakan barang impor dari Malaysia. Saat ini pihak BBPOM juga sudah mengetahui eksportirnya, namun mereka hanya mencari keberadaan barang yang sudah terlanjur masuk ke Indonesia tersebut.

Dikatakan, petugas akan terus melakukan pengawasan terhadap keberadaan tiga merk ikan kaleng itu di Aceh. Jika nanti BBPOM menemukan ikan kaleng itu di Aceh, maka pihaknya akan mengamankan dan menelusuri distributor yang memasok barang ke pedagang.

Kepala BBPOM Banda Aceh, Zulkifli, mengatakan, cacing anisakis yang terdapat dalam ikan kaleng itu memang berbahaya jika dikonsumsi. Karena dapat menyebabkan pendarahan dan pembengkakan pada usus jika konsumsi.

“Itu sejenis parasit, jadi tentu akan berbahaya jika dikonsumsi manusia. Dampaknya bisa menyebabkan pendarahan atau pembengkakan pada usus,” ujarnya.

Sebelumnya, publik sempat heboh dan beredar di media sosial video mengenai ikan kaleng mengandung cacing di dalamnya.(mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help