Ketua DPRK Aceh Timur Minta Pemerintah Beri Perhatian Serius Terhadap Pemilik Obligasi di Aceh

Karena para saudara-saudara kita terdahulu telah mengorbankan harta bendanya untuk memperjuangkan kemerdekaan negara ini

Ketua DPRK Aceh Timur Minta Pemerintah Beri Perhatian Serius Terhadap Pemilik Obligasi di Aceh
HJ Cut Nur Arfah (tengah) didampingi anaknya T Mahdi (kanan) dan seorang warga Fadlan (kiri) memperlihatkan surat obligasi peninggalan kakek dan ayah T Mahdi di Gampong Baro, Kecamatan Julok, AcehTimur, Senin (26/3). 

Laporan Seni Hendri | Aceh Timur

SERAMBINEWA.COM, IDI - Ketua DPRK Aceh Timur, Marzuki Ajad meminta pemerintah pusat agar memberikan perhatian serius kepada warga Aceh yang memiliki surat utang negara atau obligasi pembelian pesawat Dakota RI-001 Seulawah.

Pesawat Seulawah merupakan salah satu pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia yang dibeli berkat bantuan dari rakyat Aceh dari pesawat lainnya.

"Harapan kita agar pemerintah memberikan perhatian serius kepada ahli waris. Karena para saudara-saudara kita terdahulu telah mengorbankan harta bendanya untuk memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Karena itu, kita harapkan negara tidak melupakan begitu saja pengorbanan rakyat Aceh," jelas Marzuki Ajad.

Baca: Warga Julok Aceh Timur Simpan Delapan Surat Obligasi Wasiat Kakek dan Ayahnya

Marzuki Ajad juga menyarankan agar pemerintah membentuk tim khusus untuk mendata, dan mempelajari persoalan obligasi yang banyak dimiliki rakyat Aceh ini.

"Intinya harus ada balas jasa dari negara untuk mereka baik dalam bentuk apapun. Tentu kesannya tidak baik jika pemerintah mengabaikan persoalan ini begitu saja," ungkap Marzuki Ajad.

Sebelumnya diberitakan, T Mahdi (44) warga Gampong Baro, Kecamatan Julok, Aceh Timur, menyimpan delapan lembar obligasi nasional (surat utang negara) dengan tiga jenis surat utang, yaitu Oentoek Pembeli Kapal Oedara Atjeh (KOA), Oeang Pindjaman Nasional, dan Obligasi Nasional.

Baca: Warga Lhokseumawe Tunjukkan 3 Surat Utang Negara Tahun 1950, Apakah Obligasi Pembelian Pesawat?

Ke delapan surat utang itu tiga di antaranya atas nama almarhum T Nasruddin (meninggal tahun 2007) yang merupakan orang tuanya.

T Mahdi merincikan, selain tiga lembar obligasi atas nama ayahnya, satu surat lainnya milik T Hakim (abang dari T Nasruddin), tiga lembar lainnya milik adik T Nasurddin (Tjoet Roehoen A’la), dan satu lembar lagi milik kakeknya (ayah dari ibunya) Hj Cut Nur Arfah yang bernama TH bin Gam.

T Mahdi menceritakan, ayah dan kakeknya itu memberikan pinjaman utang kepada negara melalui dua tahap yaitu tahun 1946 dan 1950.(*)

Penulis: Seni Hendri
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help