Cadangan Minyak Aceh Capai 100 Juta Barel

Perusahaan investor asal Dubai, Uni Emirat Arab, Generation Rosource Discoveries (GRD) meyakini Aceh masih kaya

Cadangan Minyak Aceh Capai 100 Juta Barel
RAJA MOHAMED IQBAL, Direktur Regional Asia Pasific GRD

BANDA ACEH - Perusahaan investor asal Dubai, Uni Emirat Arab, Generation Rosource Discoveries (GRD) meyakini Aceh masih kaya cadangan minyak bumi dan gas alam (migas). Total cadangan minyak di wilayah Utara dan Selatan Aceh bahkan diprediksi mencapai 100 juta barel, atau setara dengan nilai fantastis, yaitu 9,2 juta miliar dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan kurs minyak dunia saat ini.

Hal itu diungkapkan Direktur Regional Asia Pasific GRD, Raja Mohamed Iqbal kepada Serambi, Senin (9/4) di sela diskusi bersama ahli geologi Aceh tentang kerja sama di bidang eksplorasi energi di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh. Menurut Raja, kekayaan migas Aceh dapat terlihat dari kondisi geologi di Aceh dan didukung dengan riset serta rekam jejak perusahaan migas seperti PT Arun.

“Namun potensi yang sangat besar itu belum bisa diambil manfaatnya untuk kesejahteraan masyarakat. Hal ini yang sedang kami usahakan bersama pemerintah,” ujar Raja Mohamed Iqbal. Dikatakan, setelah menandatangani MoU bersama Pemerintah Aceh tentang eksplorasi migas pada 22 Februari lalu, kini pihaknya sedang mempersiapkan proposal survei umum yang akan diajukan ke BKPM dan Kementerian ESDM untuk perizinan.

Selain itu, lewat diskusi dengan puluhan ahli geologi di Aceh itu, GRD mengumpulkan data lengkap terkait wilayah yang akan disurvei. Rencananya, survei akan dilakukan di wilayah utara dan selatan Aceh seluas 20 ribu kilometer. “Kami akan kumpulkan 8 sampai 10 prospek, dan memilih yang terbaik untuk dilakukan studi intens untuk selanjutnya dilakukan pengeboran,” katanya, dan menyebut untuk bisa produksi butuh waktu sekitar 3,5 tahun.

Hal serupa juga dikatakan CEO GRD, M Salmaan Sayeed saat memberikan sambutan. Menurutnya, survei dapat dilakukan lebih cepat berkat teknologi canggih dari Kanada. Teknologi bernama Stress Field Detector (SFD) itu dapat mengukur potensi migas di wilayah yang disurvei. “Metode ini memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi dibanding metode konvensional,” kata Salmaan, dan menyebut SFD juga sudah teruji di negara Amerika latin dengan hasil yang memuaskan.

Sementara itu, Gubernur Aceh diwakili Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh, Ir Iskandar MSc saat membuka diskusi mengatakan, acara itu merupakan sosialisasi dalam tahapan pelaksanaan investasi di Aceh. Disebutkan, GRD akan melakukan investasi di Aceh dengan total nilai sekitar 50 juta dolar AS dalam bidang survei geofisika dan eksplorasi migas di Aceh.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Joni ST MT PhD menambahkan, airborne survey atau pemantauan dari udara menggunakan sensor canggih yang disematkan pada pesawat terbang, akan dilakukan GRD setelah mengantongi izin pusat. Survei berteknologi Stress Field Detector (SFD) itu menurutnya sangat canggih dan ramah lingkungan.

“Sensor tersebut tidak mengeluarkan radiasi atau dampak buruk terhadap laut atau makhluk hidup di dalamnya. Ini metode terbaru dalam dunia migas,” ujar Joni yang juga Kepala Bidang (Kabid) Migas di Dinas ESDM Aceh. Bahkan lanjutnya, tingkat keakuratan SFD mencapai 75 persen, atau 3 kali lebih baik daripada metode konvensional.

Joni menambahkan, survei konvensional menggunakan metode seismik yang dapat menimbulkan gelombang atau getaran terhadap wilayah yang disurvei. Sedangkan SFD tidak berdampak apapun terhadap lingkungan. “Teknologi SFD juga lebih efisien. Survei konvensional butuh waktu hingga 7 tahun, sementara SFD bisa 3,5 tahun,” pungkasnya. (fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help