Tafakur

Menghamburkan Harta

Memperoleh suatu kenikmatan, seperti lulus sekolah, harusnya menambah rasa syukur kepada Allah

Menghamburkan Harta
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan” (QS. Al-Israa’: 26-27).

Memperoleh suatu kenikmatan, seperti lulus sekolah, harusnya menambah rasa syukur kepada Allah. Dengan bersyukur, kita menjadi sadar bahwa ilmu yang diperoleh dengan rahmat dan kasih sayang Allah. Proses pencarian ilmu pun dihubungkan dengan niat karena Allah, bukan ingin bermegah-megahan.

Jika mencari ilmu karena ingin bermegah-megahan, maka akan mudah melupakan Allah sebagai pemberi ilmu, pemberi kesempatan mencari ilmu, dan pemberi segala fasilitas seperti fisik yang sehat untuk mengoleksi ilmu. Bermegah-megahan juga bisa melalaikan atau melupakan kematian dan kehidupan akhirat. Padahal segala kenikmatan itu akan dipertanyakan di akhirat kelak (QS. At Takatsur: 1-8).

Makanya tidak mengherankan, saat orang-orang yang melupakan Allah dan kehidupan akhirat memperoleh suatu kenikmatan, maka akan dirayakan dengan cara-cara yang tidak diridhai Allah. Termasuk di antaranya menghambur-hamburkan harta dengan cara yang mubazir. Coret-coret baju saat lulus dari sekolah termasuk perbuatan mubazir. Ini termasuk perbuatan yang disenangi setan. Islam melarang buang-buang harta, tetapi sangat menganjurkan untuk bersedekah dengan hal-hal yang bermanfaat.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help