Warga Trienggadeng Minta Pohon Beringin Ditebang

Sebatang pohon beringin yang berada di Keude Trienggadeng atau persisnya di pinggiran jalan nasional Banda Aceh-Medan

Warga Trienggadeng Minta  Pohon Beringin Ditebang
SERAMBI/ABDULLAH GANI
Pohon beringin yang berada di pinggiran jalan nasional Banda Aceh-Medan atau persisnya di Ibukot kecamatan Trienggadeng rawan musibah. Konon pohon yang kini berusia lebih dari 200 tahun belakangan cabang atau rantingnya kerap patah dan menimpa pengguna jalan. SERAMBI/ABDULLAH GANI 

* Diperkirakan Berusia 250 Tahun

MEUREUDU- Sebatang pohon beringin yang berada di Keude Trienggadeng atau persisnya di pinggiran jalan nasional Banda Aceh-Medan belakangan kerap mengundang malapetaka bagi pelintas. Pasalnya, tanaman yang konon menurut penuturan sejumlah warga berumur 250 tahun itu rantingnya sering patah.

Keberadaan pohon yang sebelumnya sangat rindang dan bermanfaat besar bagi masyarakat, karena dapat dijadikan tempat berteduh di kala terik matahari serta hujan deras, kini justru menebar risiko. Warga pun mulai menghindar. Tempat duduk yang sengaja dibuat melingkari pohon, selama ini kosong melompong. Warga mengaku tidak berani lagi mangkal di sana karena takut mengundang musibah, apalagi tatkala angin kencang disertai hujan deras. Mereka malah berharap pada dinas terkait agar ditebang saja.

“Khawatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan, selama ini kami tak lagi berani duduk di bawah pohon yang lingkaran batangnya lumayan besar. Apalagi, dalam dua pekan terakhir cabang atau rating sering patah dan berjatuhan yang terkadang menimpa pengguna jalan walaupun tak fatal,” kata Sulaiman, seorang warga. Bahkan, saat angin kencang sejumlah warga yang mangkal di warkop seputar pohon raksasa itu terpaksa harus menjauh untuk menghindari patahnya cabang yang sudah lapuk.

Tgk Zulkarnaen (98), salah seorang penduduk Gampong Peulandok yang juga tokoh Trienggadeng, kepada Serambi, Jumat (1/6) membenarkan bahwa belakangan pohon yang berada pinggiran jalan nasional itu kerap mengundang malapetaka, baik bagi pelintas maupun warga yang lalu lalang seputar pohon dimaksud. Ayah Don--panggilan akrab untuk lelaki bertubuh tegap itu–berharap kepada Dinas Lingkungan Hidup setempat agar pohon itu ditebang saja. Katanya, pohon yang sudah sangat tua itu, belakangan dinilai mulai membahayakan pengguna jalan karena hampir setiap hari rantingnya patah. Tak jarang menimpa orang yang sedang lalu lalang. Seperti yang terjadi pada Kamis (31/5), seorang yang sedang melintas di kawasan tersebut, tiba-tiba ranting pohon patah dan berjatuhan. Untung ranting yang terkena tubuh pelintas tadi tidak seberapa besar dan hanya sedikit bagian tubuhnya yang terkena. “Tapi jika jatuhnya pas di sekujur tubuh, bisa jadi berakibat fatal,” tandas Ayah Don.

Diyakini, pohon dimaksud umurnya sudah lebih 250 tahun. Saat Ayah Don masih remaja, pernah ditanyakan pada seorang kakek berusia sekitar 80 tahun. Sang kakek mengatakan bahwa sejak dia kecil pohon tersebut sudah tumbuh besar.

Ayah Don dan beberapa warga Trienggadeng lainnya kepada Serambi meminta pihak terkait segera menebangnya. “Apa menunggu korban jiwa baru ditebang?” tanya Ayah Don.(ag)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved