Belasan Rumah Terbakar di Kramat Dalam
Kebakaran besar menghanguskan 16 rumah, empat rumah toko (ruko) dan tiga kios di Gampong Kramat Dalam
* Mobil Pemadam Dinilai tak Siap
SIGLI - Kebakaran besar menghanguskan 16 rumah, empat rumah toko (ruko) dan tiga kios di Gampong Kramat Dalam, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, Jumat (1/6) malam. Banyaknya bangunan yagn terbakar dinilai warga karena tidak siapnya penanganan dari armada pemadam kebakaran. Jumlah armada yang sangat terbatas menyebabkan suplai air tidak optimal, sehingga tidak mampu mematikan lidah api yang semakin membesar.
Bangunan yang terbakar tersebut berada pada satu titik. Empat ruko serta tiga kios terletak di depan jalan Kramat Dalam. Sementara 16 rumah warga berada di belakang ruko dan kios tersebut. Rumah warga itu letaknya berdempetan yang memiliki dua lorong. Yakni lorong Muhammadiyah dan lorong musalla.
Api yang membakar bangunan tersebut diduga berasal dari tumpukan sampah yang kemudian menyambar rumah kosong di belakang ruko di lorong Muhammadiyah. Di rumah kosong itu disebut-sebut banyak tersimpan mercon yang hendak diperdagangkan menjelang lebaran. Sehingga suara letusan mercon terdengar saat api menguasai rumah tersebut. Dalam hitungan menit, api membubung besar dengan menyambar rumah, ruko dan kios di sekitarnya.
Marjoni (38) warga Gampong Kramat Dalam, kepada Serambi, Sabtu (2/6) mengatakan, armada pemadam kebakaran yang dikelola Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie yang dikerahkan ke lokasi, sepertinya tidak siap menangani kebakaran di Kramat Dalam. “Buktinya, armada pemadam yang sampai di lokasi, harus kembali lagi untuk mengambil air,” katanya.
Menurutnya, armada pemadam kebakaran seharusnya harus siap dengan air di mobil tanki, sehingga siap diturunkan kapan saja. Sebab, musibah datang tanpa diduga. Sehingga butuh penanganan yang sempurna supaya tidak mengecewakan korban yang terkena musibah.
“Kami berharap manajemen penanggulanan kebakaran ini harus diubah, agar tidak terulang kembali di masa mendatang. Karena kami sangat kecewa dengan aksi armada pemadam kebakaran yang tidak siap menangani kebakaran seperti ini,” pungkasnya.
Hal ini juga diungkapkan Keuchik Kramat Dalam, Muhammad Zaini A Karim. Ia mengungkapkan, kebakaran besar itu gagal dicegah akibat armada pemadam yang tiba ke lokasi, belum siap dalam penanganan memadamkan api. Armada pemadam yang diturunkan berjumlah tiga unit, namun volume air yang dibawa tidak cukupi untuk memadamkan api.
“Armada pemadam sudah tepat waktu datang ke lokasi, tapi armada itu tidak mampu memadamkan api, karena tidak didukung air yang cukup,” sebutnya.
Ia menambahkan, jika dalam proses pemadaman api itu tidak melibatkan water canon Polres Pidie dan empat mobil milik PDAM Sigli, maka jumlah bangunan yang terbakar bisa lebih banyak lagi. Karena selain cuaca panas, tiupan yang meniup juga mempercepat api menyambar bangunan di sekitarnya.
Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, yang ditanyai Serambi, kemarin menjelaskan, hingga kini polisi masih memeriksa saksi yang pertama melihat sumber api muncul. Tapi, polisi belum bisa memastikan penyebab utama musibah kebakaran di Gampong Kramat Dalam, dan kasus ini masih dalam penyelidikan polisi.
“Memang informasi yang kami terima bahwa kebakaran meluas akibat adanya mercon di salah satu bangunan. Tapi, polisi harus membuktikan termasuk harus ada saksi yang melihatnya. Untuk itu kami masih terus melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan sejumlah saksi,” kata Kapolres Andy.
Menurut Keuchik Kramat Dalam, Muhammad Zaini A Karim, kebakaran itu terjadi pukul 20.30 WIB. Api bersumber dari tumpukan sampah di depan rumah kosong di lorong Muhammadiyah. Dari rumah kosong api menyambar ke rumah lainnya. Sehingga tercatat 16 unit rumah dilahap si jago merah. Rinciannya, lima unit rumah kosong, dua rumah yang disulap menjadi gudang, dan sembilan rumah dihuni 40 jiwa. Api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 01.00 WIB, dini hari.
“Penghuni rumah yang terkena musibah dominan merupakan warga pendatang yang berprofesi sebagai pedagang. Kini, mereka pulang kampung. Saat ini, dapur umum telah dibangun oleh Tagana Aceh di Meunasah Kota Sigli. Namun posko pengungsian belum dibangun,” ujarnya.
Ia menambahkan, dua ruko yang terbakar itu milik Sofyan dan Muslem yang menjual barang kelontong. Lalu, satu ruko milik H Darwin menjual sayur yang dihuni empat jiwa dan satu ruko dalam kondisi kosong. Sementara tiga kios yang terbakar milik Zubaidah yang kini disewakan kepada Sudirman, Ramadhan dan Ibrahim.(naz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/warga-menyelamatkan-barang-yang-tidak-sempat-terbakar_20180603_090741.jpg)