Ramadhan Mubarak

Memetik Pernik Ramadhan

SESUNGGUHNYA Allah tidak akan mensyariatkan atau melarang sesuatu kecuali ada hikmah di belakangnya

Memetik Pernik Ramadhan
Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA 

Oleh Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh. Email: muslimibr@gmail.com

SESUNGGUHNYA Allah tidak akan mensyariatkan atau melarang sesuatu kecuali ada hikmah di belakangnya. Hikmah itu adalah untuk kita hamba-Nya. Bukan untuk Allah, sesuai firman-Nya melalui lidah Musa as, “Dan Musa pun berkata (kepada kaumnya): Jikalaupun kamu dan semua umat manusia semuanya kufur kepada Allah, Sesungguhnya tetap Maha Kaya dan Maha terpuji.” (QS. Ibrahim: 8).

Hikmah puasa yang teragung telah terangkum dalam firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183).

Dalam ayat ini, Allah Swt tidak menggunakan redaksi: “Agar kamu sekalian menderita”, atau “sehat”, atau “bersahaja (hemat)”. Akan tetapi Allah Swt berfirman dengan menggunakan redaksi, agar kamu sekalian bertakwa.

Dengan demikian, melalui ayat tersebut dapat kita pahami bahwa Allah Swt menjadikan puasa sebagai ujian ruhani (spiritual) dan moral, dan sebagai media (sarana) untuk mencapai sifat dan derajat orang-orang yang bertakwa. Allah Swt menjadikan pula takwa sebagai tujuan utama dari pengalaman ibadah puasa tersebut.

Ibnu Mas’ud ra merumuskan sebuah kaidah dalam memahami ayat Alquran yang diawali dengan seruan, “Hai orang-orang yang beriman; Jika kalian mendengar atau membaca ayat Alquran yang diawali dengan seruan, hai orang-orang yang beriman, maka perhatikanlah dengan saksama, karena setelah seruan itu pastilah ada sebuah kebaikan yang Allah perintahkan, atau sebuah keburukan yang Allah larang.”

Di dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menguraikan hikmah puasa, beliau mengatakan, “Tujuan puasa adalah agar kita berakhlak dengan akhlak Allah Swt, dan meneladani perilaku malaikat dalam hal menahan diri dari hawa nafsu, sesungguhnya malaikat bersih dari hawa nafsu. Manusia adalah makhluk yang memiliki kedudukan (derajat) di atas binatang karena dengan cahaya akal pikirannya ia mampu mengalahkan hawa nafsunya, dan di bawah derajat malaikat karena manusia diliputi hawa nafsu. Manusia diuji dengan melakukan jihad melawan hawa nafsunya. Jika ia terbuai oleh hawa nafsu, ia jatuh ke dalam derajat yang paling rendah, masuk dalam perilaku binatang. Dan Jika ia dapat menundukkan (mengekang) hawa nafsunya, ia naik ke derajat yang paling tinggi dan masuk dalam tingkatan malaikat.”

Mengomentari masalah ini, Ibnul-Qayyim menjelaskan hikmah puasa dengan lebih rinci; “Tujuan puasa adalah mengekang diri dari hawa nafsu, untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan hakiki serta kehidupan yang suci dan abadi, turut merasakan lapar dan dahaga yang teramat sangat agar peka terhadap rasa lapar kaum fakir miskin, mempersempit jalan setan dengan mempersempit jalur makan dan minum, mengontrol kekuatan tubuh yang begitu liar karena pengaruh tabiat sehingga membahayakan kehidupan dunia dan akhirat, menenangkan masing-masing organ dan setiap kekuatan dari keliarannya, dan menali-kendalinya. Sebab puasa merupakan tali kendali dan perisai bagi orang-orang yang bertakwa serta training (penggemblengan) diri bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt.”

“Puasa memiliki pengaruh dan potensi kekuatan yang luar biasa dalam memelihara anggota badan dari memakan barang yang merusak kesehatan. Puasa memelihara kesehatan jiwa dan raga, dan mengembalikan apa yang telah dirampas oleh kekuatan hawa nafsu. Puasa adalah media yang paling baik untuk membantu mencapai derajat takwa.”

Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi dalam tafsir Al-Maraghi mengatakan, ada beberapa sisi puasa yang dapat mengantarkan manusia meraih gelar muttaqin: Pertama, puasa membiasakan seseorang takut kepada Allah Swt, karena orang yang sedang berpuasa tidak ada yang mengontrol dan melihat kecuali Allah Swt;

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved