Cawagub Sumut Musa Rajekshah Baca Puisi Karya Penyair Aceh di Medan Fair

"Kita harus memberi perhatian kepada pembangunan kesenian kita, di dalamya adalah sastra,"

Cawagub Sumut Musa Rajekshah Baca Puisi Karya Penyair Aceh di Medan Fair
ist
Cawagub Sumut Musa Rajekshah saat baca puisi karya Penyair Aceh yang juga wartawan Serambi Indonesia, Fikar W.Eda di Medan Fair. 

Laporan Fikar W.Eda/Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA -- Calon Wakil gubernur Sumatera Utara (Sumut), H. Musa Rajekshah yang akrab disapa Bang Ijeck, membacakan pusi "Dalam Bening Sujud" karya penyair Aceh yang juga wartawan Serambi Indonesia, Fikar W. Eda, dalam acara "Parade Puisi Ramadhan" di Plaza Medan Fair, Sabtu (9/6/2018).

"Alhamdulillah, saya bisa ikut meramaikan acara ini. Berbicara dengan seniman dan baca puisi," kata Bang Ijeck yang berpasangan dengan Edy Rahamayadi sebagai calon gubernur Sumut dalam Pilkada Sumut 2019.
Ijeck menyempatkan diri hadir dalam acara tersebut memenuhi undangan panitia, dan sebagai bentuk apresiasi terhadap kesenian.

Baca: ‘Saya Datang dari Aceh, Tampil di Sini, Baca Puisi,’ Kata Zoel Kirbi di Medan Fair

"Kita harus memberi perhatian kepada pembangunan kesenian kita, di dalamya adalah sastra," lanjut Ijeck yang masih memiliki darah Aceh dalam tubuhnya, mengalir dari jalur ibundanya.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Teater Generasi Medan bekerjasama dengan Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia atau Kompi Sumut, dan Balai Bahasa Sumatera Utara.

Baca: Turun Pesawat, Penyair LK Ara Langsung Baca Puisi di Bandara Rembele Takengon

Pembacaan Puisi diisi oleh sejumlah penyair Sumut, antara lain Damiri Mahmud, Syahril, Ronald, Zoel Kirbi, Devie Matahari, kelompok musikalisasi Binjai, Sanggar Generasi dan lain-lain.

"Kami ingin menghadirkan sesuatu yang kontemplatif di Ramadhan ini enggan cara berpuisi," kata Ketua Panitia Suyadi San yang juga penyair dan dramawan Sumut.

Puisi yang dibacakan Ijeck itu lengkapnya berbunyi:

"DALAM BENING SUJUD"

Dalam bening sujud,
Kami ingin menginsyafi kembali,
Makna perjalanan penuh liku dan terjal,
Menderap dari satu pendakian ke pendakian lain,
Menyusur lembah pengap dan hampa,
Kami adalah jiwa yang bahagia,
Ketika tiba di puncak pendakian,
Dan berkemas ke pendakian berikutnya.

Dalam sunyi sujud ini,
Kami ingin mengeja kembali,
Makna pelayaran,
Kepak elang,
Amuk gelombang,
Dan semua isyarat,
Dari luasnya samudra,
Bergerak dari satu pulau,
Ke pulau harapan lain,
Kami adalah jiwa bahagia,
Ketika pelayaran mencapai dermaga,
Dan bersiap ke pelayaran berikutnya.

ALLAH Yang Maha Pemurah,
Seru sekalian alam,
Kami bersyukur atas segenap anugerah Mu,
Kami tak punya kuasa sedikitpun tanpa ridha Mu,
Bahwa benih yang kami semai pada musim sulit,
Telah menjelma pohon besar,
Daunnya rindang,
Batangnya kokoh,
Akarnya kuat,
Menancap bumi.
Buah dari pohon itu,
Telah pula melahirkan benih yang lain,
Buah yang lain,

Telah kami titi buih,
Dalam cemas dan gagu,
Di bawah ancaman granat dan peluru,
Telah kami arung deras sungai,
Penuh kelok dan batu.

Dalam senyap tafakur dan sujud ini
Dengan segenap kerendahan hati
Perkenankan kami melafaskan nama Mu
Mendekapnya dalam jiwa
Menjauhkan kami dari pongah dan dengki.

Jakarta, 2008

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help