Opini

Erdogan ‘Magnet’ Menyatunya Dunia Islam

SETELAH runtuhnya imperium Utsmaniyah satu abad silam, relatif tidak ada lagi pemimpin bagi dunia Islam

Erdogan ‘Magnet’  Menyatunya Dunia Islam
PEMUDA Palestina yang berdemonstrasi menentang keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel melempar batu ke arah tentara Yahudi di pos pemeriksaan Atarot, utara Yerusalem, Selasa (19/12). 

Oleh Teuku Zulkhairi

SETELAH runtuhnya imperium Utsmaniyah satu abad silam, relatif tidak ada lagi pemimpin bagi dunia Islam. Negeri-negeri muslim tercerai berai. Dan usaha menuju persatuannya selalu mendapat kendala yang sangat berat. Para penyeru persatuan dunia Islam tidak jarang bernasib tragis. Saat dunia Islam dalam ketertindasannya, negeri-negeri lain justru terus bergerak maju.

Uni Eropa secara tidak langsung menasbihkan dirinya sebagai penaung bagi umat Kristiani. Rusia dan Cina bagi komunis. India bagi kaum Hindu. Amerika melindungi Yahudi dan juga Kristiani. Sementara Islam dan kaum muslimin, relatif tidak ada lagi yang menaungi peradabannya. Peradaban Islam yang besar pun hancur berkeping-keping.

Ketertindasan umat Islam juga diperkuat oleh fakta tidak adanya perwakilan negeri muslim dalam daftar negara pemegang hak veto di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Kondisi ini diperparah oleh keberadaan para pemimpin boneka Barat di negeri-negeri muslim. Mereka tidak membela rakyatnya, tapi justru melawan rakyatnya sesuai skenario asing.

Kondisi ini mengakibatkan negeri-negeri muslim terus-menerus terzalimi oleh kekuatan dunia yang menindas. Peradaban Islam menjadi semakin lemah. Tidak ada yang bisa membela secara maksimal saat umat Islam terjajah, baik di Palestina, Afghanistan, Irak, di Arakan (Myanmar), Crimea, Afrika, dan di berbagai belahan dunia lainnya. Kondisi umat Islam persis seperti anak-anak yang kehilangan ayahnya. Tidak ada tempat mengadu dalam dunia yang semakin menindas.

Tidak pernah padam
Dalam kondisi ini, gerakan menuju kebangkitan Islam sebenarnya tidak pernah padam. Seruan menuju kebangkitan Islam terus bergaung di seantaro negeri. Umat Islam yang secara meyakinkan telah menerima sistem demokrasi sebenarnya selalu mampu memenangkan banyak pesta demokrasi jika digelar secara jujur dan adil.

Kita menyimak bagaimana politik Islam selalu dominan di banyak negeri muslim. Seruan kebangkitan Islam terus bergema baik di Mesir, di Maroko, Turki, Aljazair, Pakistan, Tunisia, Malaysia, Indonesia, Turki, Sudan, Malaysia dan sebagainya. Ini menandakan bahwa upaya menuju kebangkitan Islam dan mewujudkan persatuan dunia Islam tidak pernah pudar.

Masalahnya, dari sejumlah negeri muslim ini, umat Islam menghadapi berbagai persoalan domestik yang tidak mudah. Kudeta militer yang disponsori asing, praktik korupsi, ketertinggalan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing, dan berbagai persoalan akut lainnya. Maka jangan heran, jangankan untuk berbicara narasi peradaban Islam di level dunia, malahan mereka harus berkutat pada wacana-wacana dasar yang tidak mampu memberikan kontribusi bagi dunia.

Akibatnya, suara dunia Islam kian tak terdengar. Sebagai contoh, kita menyaksikan bagaimana tanah Palestina sejengkal demi sejengkal dicaplok Israel, sehingga saat ini hanya menyisakan Jalur Gaza dan Tepi Barat yang sempit. Dan parahnya, pencaplokan itu sampai saat ini terus berlangsung. Umat Islam disana terus menerus dihina. Apalagi, umumnya pemimpin dunia Islam hanya bisa diam membisu. Mereka tidak berani bersuara.

Berharap pada Erdogan
Dalam kondisi seperti ini, sangat logis jika dunia Islam menaruh harap pada Turki di bawah kepemimpinan Erdogan. Bukan saja karena alasan sejarah, namun juga faktor track record kepemimpinan Erdogan. Turki memang belum menjadi negara kuat selevel dengan Amerika, Cina dan Rusi. Tapi Erdoogan sadar keunggulan peradaban Islam dan sejarah agung bangsanya. Maka suatu hari ia mengatakan, “peradaban besar yang pernah runtuh harus dibangun kembali di atas puing-puing keruntuhannya”.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved