Mahasiswa Ciptakan Penjernih Air Berbahan Biji Kelor

Lima mahasiswa Unsyiah, Banda Aceh, yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian

Mahasiswa Ciptakan Penjernih Air Berbahan Biji Kelor
ist
Suasana saat penyerahan alat penjernih air sederhana dari mahasiswa Unsyiah ke Pesantren Babun Najah Banda Aceh beberapa waktu lalu. 

BANDA ACEH - Lima mahasiswa Unsyiah, Banda Aceh, yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M), menciptakan alat penjernih air menggunakan biji murong (kelor). Alat tersebut dihibahkan untuk Pesantren Modern Babun Najah Banda Aceh yang diterima Wakil Pimpinan Pesantren, Ustaz Edi Azhari MPd pada 29 Juni lalu.

Tim PKM-M yang didanai Kemenristekdikti itu dibimbing dosen FT Unsyiah, Umi Fathanah ST MT dan diketuai Raihan Annisa Fitri dari Jurusan Teknik Kimia angkatan 2015. Tim beranggotakan Rahmatun Maula dari Jurusan Teknik Kimia (2015), Arif Maulana dari Jurusan Teknik Kimia (2015), Arief Wirakusuma dari Jurusan Teknik Kimia (2015), dan Zikrizal dari Jurusan Teknik Mesin (2016).

Hal itu diungkapkan anggota tim, Rahmatun Maula kepada Serambi, Kamis (12/7). Dia mengatakan, dipilihnya biji kelor untuk menjernihkan air karena biji-bijian itu bersifat biokoagulan, yang dapat mengendapkan partikel solid dan kotoran-kotoran yang ada di dalam air. “Biji murong merupakan bahan alami untuk menjernihkan air yang tidak berbahaya bagi kesehatan,” ujar Maula.

Dia menjelaskan, alat itu berupa dua wadah plastik dan satu tabung yang dirakit agar saling terhubung. Wadah pertama dimasukkan biokoagulan yaitu biji murong untuk mengendapkan partikel solid dalam air. Sementara tabung yang berada di bagian tengah diisi pasir silika sebagai penyaring. “Air bersihnya akan keluar melalui wadah plastik satu lagi,” jelasnya.

Menurut Maula, kondisi air di Pesantren Babun Najah melatarbelakangi pihaknya untuk menciptakan alat tersebut. Dikatakan, santri di sana masih menggunakan air sumur yang tidak selalu jernih dan mengandung unsur besi. “Kami khawatir jika dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan diare dan gatal-gatal, dan penyakit lainnya,” tambah dia.

Karena itu pihaknya termotivasi untuk membantu santri Babun Najah dalam mendapatkan air bersih yang bisa digunakan untuk mencuci pakaian, mandi, berwudhu, hingga keperluan dapur. “Kami berharap terobosan ini bisa bermanfaat bagi penghuni Pesantren Babun Najah,” kata Maula, seraya menyebut proses pembuatan alat tersebut memakan waktu satu bulan.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help