Opini
Personalisasi Piala Dunia
TIDAK ada Piala Dunia yang tidak berisi keluhan-keluhan. Sebaik apa pun persiapan yang dibuat negara tuan rumah dan FIFA
Oleh Bisma Yadhi Putra
TIDAK ada Piala Dunia yang tidak berisi keluhan-keluhan. Sebaik apa pun persiapan yang dibuat negara tuan rumah dan FIFA, tetap saja ada problem-problem yang kemudian bermunculan selagi kompetisinya berjalan.
Agar tidak terlalu jauh, tariklah saja riwayatnya dari dua Piala Dunia sebelumnya. Piala Dunia 2014 berlangsung di tengah protes warga Brasil terhadap pemerintahnya yang dianggap “lebih peduli pada hura-hura Piala Dunia” ketimbang menyejahterakan warganya yang masih miskin. Bahkan, beberapa pertandingan digelar bersamaan dengan berlangsungnya demonstrasi warga di luar stadion.
Di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan juga sama. Sekurang-kurangnya sampai sekarang kita masih ingat betul dua problem utama waktu itu. Pertama, soal protes pemain, pelatih, hingga para suporter dari negara lain terhadap penggunaan vuvuzela yang menghasilkan suara luar biasa bising di dalam stadion. Ketika terompet khas Afrika Selatan itu ditiup massal, kita seperti mendengar suara nyamuk yang banyak sekali.
Keluhan lain adalah karakter bola resmi yang digunakan. Bola bikinan Adidas yang dinamai Jabulani itu, oleh para pemain dan terutama penjaga gawang, dianggap labil atau sulit dikontrol. Bahkan, Jabulani dianggap “bola terburuk yang pernah dipakai dalam sejarah Piala Dunia”.
Muncul celaan
Lalu, apa kekurangan dan hal yang harus dikeluhkan dari Piala Dunia 2018 yang digelar di Rusia? Di pertandingan pertama saja langsung muncul celaan terhadap penggunaan VAR (video asisstant referee). Orang-orang FIFA bilang, penggunaan VAR agar sepakbola menjadi lebih adil. Setiap keputusan wasit yang dianggap para pemain tidak tepat, bisa ditinjau ulang dengan menonton rekaman video, untuk kemudian ditetapkan keputusan tersebut dilanjutkan atau harus dikoreksi.
Mereka yang anti-VAR mengeluh bahwa metode penunjang kinerja wasit --yang realisasinya melibatkan lebih dari sepuluh perusahaan teknologi global ternama-- itu menghilangkan “keindahan” dan “rasa alamiah” dalam sepakbola. Ketika wasit membuat keputusan keliru karena tidak melihat jelas insiden yang terjadi, itu sesuatu yang manusiawi. Justru dengan begitulah seorang wasit dididik menjadi insan yang jangan tidak bisa mengambil keputusan cepat dan tegas. Sebagaimana keputusan polemis Ali Bin Nasser (wasit asal Tunisia) yang mengesahkan gol pakai tangan Diego Maradona, saat Argentina mengalahkan Inggris di Piala Dunia 1986.
Sambil meributkan VAR, ada satu kekurangan pada Piala Dunia 2018 yang justru tidak dipedulikan orang-orang. Apakah hingga babak final sekarang Anda sering mendengar lagu resmi Piala Dunia 2018? Apakah sampai membaca paragraf ini Anda tahu judul dan penyanyinya siapa? Lagu-lagu yang dipilih gagal terkenal dan menciptakan kesemarakan.
Pasca-1998, Piala Dunia diisi dengan lagu-lagu yang datar. Tidak semarak dan bertenaga seperti The Cup of Life yang dibawakan Ricky Martin untuk Piala Dunia 1998. Apa? Anda mau membantahnya dengan Waka Waka-nya Shakira? Di telinga saya, lagu itu cuma unik, tidak lebih. Sekali lagi, cuma unik. Itu pun di beberapa penggalan lirik saja. Semaraknya tidak ada.
Kedua problem di atas datang dari kebijakan FIFA. Sementara itu ada satu persoalan serius yang mengancam masa depan muruah Piala Dunia yang “diciptakan” oleh kita, masyarakat yang menontonnya. Itu soal perspektif yang kita gunakan dalam menyikapi pertandingan-pertandingannya.
Piala Dunia mestinya tidak ditonton dengan perspektif rivalitas orang per orang. Piala Dunia itu lebih besar dari pemain sepak bola mana pun. Sekelas Pele dan Maradona saja, yang punya nama besar dalam sejarah sepakbola, tidak bisa menjadi lebih besar dari Piala Dunia. Bahkan seandainya dibuat polling untuk melihat mana yang lebih disukai khalayak antara Piala Dunia dengan Presiden FIFA, mayoritas pasti memilih yang pertama.
Dengan demikian menjadi sangat menggelikan manakala membaca komentar-komentar genit yang membuat Piala Dunia kali ini cuma seputar ribut-ribut Messi vs Ronaldo. Oleh orang-orang ini, keseruan Piala Dunia 2018 digantungkan pada rivalitas kedua pemain yang belum bisa lebih besar dari seorang Pele itu. Lebih konyol lagi sampai ada yang bilang Piala Dunia 2018 sudah hambar, sudah berakhir keseruannya, tok karena keduanya sudah tersingkir di babak 16 besar.
Pengaruh komersialisasi
Akibatnya Piala Dunia pun dipersonalisasikan. Perspektif ini terbentuk akibat pengaruh komersialisasi olahraga yang memang lebih mengedepankan sosok dalam sepakbola ketimbang organisasi. Padahal Piala Dunia dibuat untuk bangsa-bangsa. Yang akan runtuh dan tegak di dalamnya adalah harga diri bangsa.
Sebagaimana politik, sepakbola adalah urusan kolektif. Kalau toh kedua pesepak bola yang kerja sampingan jadi model iklan sampo itu gagal memenangi Piala Dunia, berarti kemampuannya, ya, cuma segitu. Begitupun dengan kawan-kawan mereka. Berarti daya inteligensi tim mereka belum menjadi yang paling unggul.
Personalisasi sepakbola menghasilkan kritik-kritik yang semata dialamatkan kepada satu-dua pemain. Bahkan, bukan cuma di seputar Messi-Ronaldo. Misalnya, ketika tempo hari Argentina kalah, suporter Manchester City menyalahkan Marcos Rojo, bek Manchester United. Lalu ada suporter Manchester United yang juga malah bersikap konyol seperti itu dengan menyalahkan Nicolas Otamendi. Demikian pula ketika Spanyol tersingkir. Suporter Barcelona mencela Segio Ramos, suporter Real Madrid mengatakan Andres Iniesta tak memberi kontribusi apa-apa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/jadwal-babak-16-besar-piala-dunia-2018_20180629_234233.jpg)