Korban Tenggelam di Lampuuk Ditemukan

Pardi K (19) mahasiswa Payonan Gadang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, yang hilang terseret arus saat mandi

Korban Tenggelam di Lampuuk Ditemukan
TIM Basarnas Banda Aceh mengevakuasi jenazah Pardi K (19) mahasiswa asal Samadua, Aceh Selatan yang ditemukan Minggu (22/7) siang, setelah sehari sebelumnya dilaporkan hilang terseret arus di Pantai Babah Dua Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, 

JANTHO - Pardi K (19) mahasiswa Payonan Gadang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, yang hilang terseret arus saat mandi di Pantai Babah Dua Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Sabtu (21/7) siang, ditemukan tak bernyawa, Minggu (2/7) sekitar pukul 14.30 WIB.

Informasi yang diperoleh Serambi, jasad korban ditemukan oleh tim gabungan Basarnas Banda Aceh, personel Polsek dan Koramil 03/Lhoknga serta relawan RAPI dan warga setempat.

Komandan Tim (Dantim) Basarnas Banda Aceh, Muhammad Asdianto, menjelaskan, korban ditemukan sekitar tebing, Pantai Babah Dua Lampuuk atau terpaut sekitar 1 kilometer dari lokasi korban hilang terseret arus. Jasad korban, dihempas ombak ke pinggir pasir dekat tebing. “Tim pencarian menemukan jasad korban di pinggir tebing dan mengevakuasinya ke Puskesmas Lhoknga. Di sana sudah menunggu keluarga korban yang langsung membawa pulang korban ke kampung halamannya,” kata Muhammad Asdianto didampingi petugas resque Basarnas, Maimun, yang dihubungi Serambi Minggu (22/7).

Seperti diberitakan pantai Babah Dua Lampuuk kembali menelan korban, Sabtu (21/7) siang. Kali ini dua pengunjung yang tengah asyik mandi di pantai itu, tiba-tiba terseret arus. Keduanya yakni Andi Maulana (21) seorang anggota polisi serta Pardi K (19) mahasiswa asal Gampong Payonan Gadang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan.

Dantim Basarnas Banda Aceh, Adrian menjelaskan Andi Maulana dan Pardi K awalnya berhasil diselamatkan oleh pengunjung pantai yang menyewa baju pelampung (life jacket) dan papan selancar di kawasan itu. “Korban Andi Maulana berhasil ditarik sampai ke pinggir pantai. Lalu, malang dengan nasib Pardi K, pegangannya terlepas saat berupaya diselamatkan. Korban langsung hilang terseret arus,” pungkas Adrian yang dihubungi Serambi, Sabtu (21/7) siang.

Seorang pengunjung patai, Irwansyah Phonna, yang ditanyai Serambi, mengharapkan rentetan peristiwa pengunjung tenggelam di Pantai Lhoknga dan berujung kematian yang terjadi hampir setiap 6 bulan, seharusnya ‘menyadarkan’ pemerintah untuk memikirkan langkah-langkah keselamatan bagi pengunjung.

Misalnya, saran dia penempatan pos pemantau atau memasang plang-plang larangan di lokasi berbahaya. “Kalau dibilang ada pedagang yang membuka plang-plang larangan mandi, belum tentu semuanya benar. Tapi, menurut saya kalau dibangun koordinasi melibatkan para pihak, saya rasa akan terbangun rasa tanggung jawab bersama. Kami pengunjung pantai sangat mengharapkan keseriusan pemerintah. Hari ini, oke lah orang lain yang korban, bisa jadi besok atau lusa, justru saudara kita yang mengalaminya,” ujarnya.

Menurutnya untuk membangun pos-pos pemantau dan plang imbauan serta larangan di titik-titik dilarang mandi tidak sampai menelan biaya sampai miliaran, paling hanya puluhan juta. “Umumnya yang jadi korban, merupakan pengunjung yang baru datang ke Pantai Lhoknga, sehingga mereka tidak paham kondisi laut dan daerah-daerah larangan mandi,” sebutnya.

Harusnya minimal standar pantai wisata itu, ada pos pemantau, ada plang imbauan dan larangan mandi di lokasi tertentu serta ada petugas yang ditempatkan khusus untuk penyelamatan. “Keberadaan semacam jet ski dan speed boat juga penting. Kami harapkan pemerintah bisa meresponnya,” harap Irwansyah.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help