FKL Desak Perusahaan Segera Bangun Barrier

Direktur Forum Konservasi Leuser (FKL) Rudi Putra, meminta perusahaan yang lahan hak guna usaha (HGU)-nya masuk

FKL Desak Perusahaan Segera Bangun Barrier
IST
Kawanan gajah liar saat digiring ke habitatnya di Kecamatan Sakti, Pidie 

* Untuk Atasi Gangguan Gajah di Aceh Timur

IDI - Direktur Forum Konservasi Leuser (FKL) Rudi Putra, meminta perusahaan yang lahan hak guna usaha (HGU)-nya masuk dalam rencana pembangunan barier (parit) gajah agar segera membangun barier tersebut agar gangguan dan konflik gajah-manusia di Aceh Timur bisa segera diatasi.

“Jika ingin konflik gajah segera teratasi maka tidak ada cara selain membangun barrier. Karena itu kami minta kepada empat perusahaan yang HGU-nya terlibat dalam upaya ini agar segera membangun barier tersebut,” ungkap Rudi Putra, Minggu (29/7).

Sejauh ini, menurut Rudi, FKL bersama Pemkab Aceh Timur, telah membangun 12 Km barrier di Kecamatan Peunaron, dari 48 Km yang ditargetkan.

“Saat ini FKL bersama Pemkab sedang melanjutkan 4 Km barier lagi di daerah Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, yang menjadi kewenangan FKL dan Pemkab. Selebihnya, 36 Km lagi merupakan kewajiban empat perusahaan yang lahannya masuk dalam rencana pembangunan barrier,” jelas Rudi.

Keempat perusahaan dimaksud yaitu PT Atakana, PT Dwi Kencana Semesta, PTPN I Julok Rayeuk Utara dan PTPN I Julok Rayeuk Selatan, serta PT Tualang Raya di Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.

Dari empat perusahaan itu, kata Rudi, ada perusahaan yang tidak setuju dibangun barier gajah melintasi lahan HGU-nya. “Perusahaan itu ingin barrier dibangun di perbatasan HGU miliknya dengan hutan. Namun permintaan itu tak bisa dikabulkan, karena sebagian wilayah HGU-nya masuk ke dalam wilayah lintasan gajah. Jadi perusahaan tersebut harus menyisihkan sebagian HGU-nya untuk kawasan gajah,” jelas Rudi.

Ia mengungkapkan, konflik gajah di Aceh Timur masih terus terjadi karena barrier yang diharapkan bisa membatasi ruang gerak gajah, belum tuntas dibangun. Dan kendala terbesar dalam menjalankan rencana ini, adalah karena keempat perusahaan tersebut belum juga memulai pembangunan barrier. Sehingga lahan HGU mereka menjadi jalan masuk bagi kawanan gajah ke wilayah perkebunan dan permukiman warga.

“Kalau keempat perusahaan itu sudah membangun barrier, insya Allah konflik gajah bisa diatasi. Padahal, sebelumnya pihak perusahaan sudah sepakat untuk membangun barrier. Karena itu, kami mendesak pihak perusahaan segera menjalankan komitmennya,” pinta Rudi.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, mengatakan bahwa untuk meminimalisasi konflik gajah di Aceh Timur, pihaknya juga berencana memasang alat pendeteksi GPS Collar sebanyak tiga unit pada tiga kelompok gajah di Aceh Timur.

Pemasangan GPS Collar diharapkan mampu memantau pergerakan kawanan gajah tersebut. “Sehingga saat kawanan gajah menuju kawasan permukiman, bisa terdeteksi secara akurat dan langkah mitigasi bisa dilakukan dengan lebih cepat,” jelas Sapto.

Namun rencana pemasangan GPS Collar ini belum bisa dilaksanakan, karena alat yang didatangkan dari luar negeri itu, belum tiba di Aceh.

Ia menambahkan, pemasangan GPS Collar ini hanyalah salah satu upaya untuk mencegah konflik gajah-manusia. Sementara penanganan konflik gajah-manusia secara menyeluruh juga perlu dilakukan dengan dukungan semua pihak, agar upaya ini bisa berjalan efektif.

“Perlu dukungan dari semua pihak, baik dari masyarakat, Pemkab dan Pemprov Aceh, LSM dan pihak perusahaan. Kami berharap dengan keterpaduan semua pihak, upaya penyelesaian konflik gajah dengan manusia di daerah ini bisa diminimalisir,” ungkap Sapto.

Seperti di Aceh Timur, jelas Sapto, FKL, dan Pemkab Aceh Timur, telah membangun barrier untuk mencegah gajah turun ke lokasi permukiman masyarakat. Namun upaya ini tidak serta-merta bisa menghilangkan konflik gajah-manusia, tetapi mampu meminimalisir potensi konflik tersebut,” jelasnya.(c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved