Citizen Reporter

Warga Jepang Rajin Kerja, Malas Beranak

JEPANG merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas 6.852 pulau. Letaknya di Asia Timur

Warga Jepang Rajin Kerja, Malas Beranak
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
PROF MOHD ANDALAS 

OLEH PROF MOHD ANDALAS, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, anggota FAMe Banda Aceh, melaporkan dari Tokyo, Jepang

JEPANG merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas 6.852 pulau. Letaknya di Asia Timur dan salah satu negara maju di Asia yang diperhitungkan dalam segala hal. Penduduknya, berdasarkan sensus tahun 2015, berjumlah 127.163.462 jiwa dengan angka kelahiran yang sangat rendah.

Saking rendahnya, sepanjang tahun 2017 hanya 917 orang bayi yang lahir. Angka ini malah lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Artinya, dalam beberapa tahun terakhir, angka kelahiran bayi tetap tidak mengalami pertumbuhan signifikan di Jepang. Realitas ini tentu menjadi masalah bagi pemerintah jika dihubungkan dengan regenerasi bangsa dan pertumbuhan angkatan kerja.

Ditinjau dari sisi pendidikan, Jepang juga jauh lebih maju dibanding beberapa negara di Asia. Universitas di Jepang malah masuk dalam 100 besar ranking universitas terbaik dunia, sedangkan Indonesia di posisi 300 dunia.

Di bidang olahraga pun pembinaan yang dilakukan Pemerintah Jepang sangat baik. Lihat sajalah untuk even Asian Games dan Olimpiade, Jepang kerap berjaya. Bahkan Jepang juga kerap ikut dalam Piala Dunia dan pernah menjadi 16 besar.

Untuk urusan jam kerja, penduduk Jepang termasuk kelompok yang gila kerja dengan masa kerja sepuluh jam/hari, sedangkan rerata di negara lain hanya 7-8 jam sehari.

Semua ini berhubungan dengan budaya disiplin masyarakat sehingga mereka dalam melakukan sesuatu melakukannya dengan baik yang sudah tentu akan diganjar gaji yang sangat layak juga.

Keadaan atau situasi nyaman dalam bekerja membuat masyarakat Negeri Sakura ini, baik pria maupun wanitanya, menikmati kerja kesehariannya dengan penuh minat dan pengabdian. Apalagi mereka punya uang yang relatif cukup dan mereka menikmati sepuasnya sehingga malas memikirkan untuk berkeluarga atau aktivitas ‘bercinta’. Inilah punca masalah mengapa akhir-akhir ini angka pernikahan dan kelahiran di Jepang menjadi menurun dan terus menurun.

Penduduk Japan relatif homogen, buktinya 98,5 persen penduduknya beretnis Jepang. Hanya sebagian kecil pekerja asing yang berasal dari Korea, Cina, Peru, dan Brazil. Dari kelompok etnis tersebut yang dominan adalah suku Yamato, sedangkan yang terkecil suku Ryukyuan dan Aunu. Jika ditilik dari populasi ini maka wajar saja mantan perdana menteri Taro Abe mendeklarasikan: satu bangsa, satu bahasa, satu kultur, dan satu ras.

Penduduk Jepang usia 65 tahun saat ini terbilang besar, yakni 26 persen dari total penduduk. Diestimasikan, pada tahun 2050 kelompok umur ini akan meningkat menjadi 40 persen. Dengan fakta seperti ini, tentunya Jepang akan menghadapi masalah kesehatan geriatric/usia lanjut yang membutuhkan biaya besar dalam penanganannya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved