Minggu, 3 Mei 2026

Citizen Reporter

Warga Jepang Rajin Kerja, Malas Beranak

JEPANG merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas 6.852 pulau. Letaknya di Asia Timur

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
PROF MOHD ANDALAS 

OLEH PROF MOHD ANDALAS, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, anggota FAMe Banda Aceh, melaporkan dari Tokyo, Jepang

JEPANG merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri atas 6.852 pulau. Letaknya di Asia Timur dan salah satu negara maju di Asia yang diperhitungkan dalam segala hal. Penduduknya, berdasarkan sensus tahun 2015, berjumlah 127.163.462 jiwa dengan angka kelahiran yang sangat rendah.

Saking rendahnya, sepanjang tahun 2017 hanya 917 orang bayi yang lahir. Angka ini malah lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Artinya, dalam beberapa tahun terakhir, angka kelahiran bayi tetap tidak mengalami pertumbuhan signifikan di Jepang. Realitas ini tentu menjadi masalah bagi pemerintah jika dihubungkan dengan regenerasi bangsa dan pertumbuhan angkatan kerja.

Ditinjau dari sisi pendidikan, Jepang juga jauh lebih maju dibanding beberapa negara di Asia. Universitas di Jepang malah masuk dalam 100 besar ranking universitas terbaik dunia, sedangkan Indonesia di posisi 300 dunia.

Di bidang olahraga pun pembinaan yang dilakukan Pemerintah Jepang sangat baik. Lihat sajalah untuk even Asian Games dan Olimpiade, Jepang kerap berjaya. Bahkan Jepang juga kerap ikut dalam Piala Dunia dan pernah menjadi 16 besar.

Untuk urusan jam kerja, penduduk Jepang termasuk kelompok yang gila kerja dengan masa kerja sepuluh jam/hari, sedangkan rerata di negara lain hanya 7-8 jam sehari.

Semua ini berhubungan dengan budaya disiplin masyarakat sehingga mereka dalam melakukan sesuatu melakukannya dengan baik yang sudah tentu akan diganjar gaji yang sangat layak juga.

Keadaan atau situasi nyaman dalam bekerja membuat masyarakat Negeri Sakura ini, baik pria maupun wanitanya, menikmati kerja kesehariannya dengan penuh minat dan pengabdian. Apalagi mereka punya uang yang relatif cukup dan mereka menikmati sepuasnya sehingga malas memikirkan untuk berkeluarga atau aktivitas ‘bercinta’. Inilah punca masalah mengapa akhir-akhir ini angka pernikahan dan kelahiran di Jepang menjadi menurun dan terus menurun.

Penduduk Japan relatif homogen, buktinya 98,5 persen penduduknya beretnis Jepang. Hanya sebagian kecil pekerja asing yang berasal dari Korea, Cina, Peru, dan Brazil. Dari kelompok etnis tersebut yang dominan adalah suku Yamato, sedangkan yang terkecil suku Ryukyuan dan Aunu. Jika ditilik dari populasi ini maka wajar saja mantan perdana menteri Taro Abe mendeklarasikan: satu bangsa, satu bahasa, satu kultur, dan satu ras.

Penduduk Jepang usia 65 tahun saat ini terbilang besar, yakni 26 persen dari total penduduk. Diestimasikan, pada tahun 2050 kelompok umur ini akan meningkat menjadi 40 persen. Dengan fakta seperti ini, tentunya Jepang akan menghadapi masalah kesehatan geriatric/usia lanjut yang membutuhkan biaya besar dalam penanganannya.

Hal lainnya yang menarik disimak tentang Jepang saat ini adalah sebuah analisis tentang demografi Jepang, yakni potensi jumlah penduduk yang akan turun di bawah 90 juta pada tahun 2050. Salah satu penyebabnya adalah angka kelahiran yang rendah dibanding laju kematian penduduk.

Tapi begitupun, masyarakat Jepang adalah masyarakat yang memiliki kultur cinta budaya, disiplin waktu dan kerja, sangat ramah, dan terkenal hidup bersih. Sebagai contoh, sangat jarang terlihat sampah di wilayah Jepang, terutama di Tokyo. Mungkin situasi ini yang membuat begitu banyak orang tertarik ingin berkunjung ke Jepang yang kian memesona. Saya sendiri sangat kaget dalam perjalanan saya dari Jakarta menuju Narita, Jepang, 98 persen penumpang Boeing A 330-300 adalah wajah-wajah Indonesia, meskipun dalam kondisi nilai tukar yen dan US Dollar pekan ini sedang melonjak tajam.

Dalam hal religi, penduduk Jepang mayoritas beragama Shinto, disusul Buddha, Kristen, dan sangat sedikit yang beragama lain, termasuk Islam. Namun, akhir-akhir ini pertumbuhan pemeluk Islam di Negeri Matahari Terbit ini kian bertambah. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya didirikan masjid di Jepang. Semakin banyak pula warung yang menjual makanan halal (halal food) atau bersertifikat halal.

Fakta lainnya adalah bertambah banyak warga Indonesia yang menikah dengan warga Jepang dan kian banyak lapangan kerja terbuka di Jepang bagi warga Indonesia. Daya tarik Tokyo yang semakin banyak masjidnya juga menjadi faktor yang mendukung lajunya jumlah muslim di Jepang.

Komunitas muslim di Jepang sekarang mulai merasakan perlunya sekolah swasta Islam demi mendidik anak-anaknya mengenal Islam dengan baik dan benar, seperti yang diinisiasi YUAI Islamic Internasional School di daerah Shibuya. Pemrakarsanya adalah wanita Indonesia dan muslim lainya yang menikah dengan warga Jepang. Silabus di sekolah yang baru berumur dua tahun ini standar Cambridge. “Siswanya baru 70 orang,” sebut Yetty Dalimi, kepala sekolah tersebut, kepada saya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved