KIP Aceh: Sebenarnya yang Dites Sangat Simpel

KOMISIONER Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Tgk Akmal Abzal mengatakan, pada prinsipnya, kriteria penilaian uji mampu baca Quran

KIP Aceh: Sebenarnya  yang Dites Sangat Simpel
Akmal Abzal

KOMISIONER Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Tgk Akmal Abzal mengatakan, pada prinsipnya, kriteria penilaian uji mampu baca Quran bagi para bacaleg DPRA yang dilakukan oleh KIP sangatlah dasar. KIP hanya menilai tiga aspek, meliputi makharijul huruf, kefasihan, dan adab atau tatak rama dalam membaca Alquran.

“Untuk makharijul huruf nilainya 40, kefasihan juga 40, dan adab 20, totalnya 100. Bacaleg minimal mendapat nilai 50 insyaallah sudah lulus, tapi jika di bawah itu maka tidak akan lulus,” katanya kepada Serambi, Jumat (3/8).

Tgk Akmal Abzal yang juga Ketua Pokja Uji Baca Alquran KIP Aceh, mengatakan, sebenarnya tes yang dilakukan oleh tim penguji sangatlah simpel. Artinya, penilaian yang dilakukan bukan layaknya penilaian musabaqah tilawatil Quran.

“Selama caleg itu mengerti huruf, baris, dan fasih membaca huruf tersebut, insyaallah pasti lulus. Kalau tidak bisa seperti qari tidak apa-apa, karena tingkat penilaiannya tidak seperti itu. Tapi bisa didengar dewan juri dengan kondisi normatif saja pasti sudah lulus,” ucapnya.

Dia mengatakan, dari 1.338 bacaleg DPRA, sebanyak 39 orang gugur pada tahap pertama, karena dianggap tak mampu membaca Alquran. Hanya empat partai nasional dan dua partai lokal yang bersih, artinya para bacaleg yang diusulkan lulus semua.

“Selebihnya, setiap parpol ada satu, dua, bahkan ada yang tujuh. Lalu mereka digantikan pada masa perbaikan, kemudian ikut tes lagi. Pada fase kedua, ada dua orang dari partai nasional yang juga gugur lagi,” kata Akmal.

Akmal mengatakan, uji baca Quran sebenarnya bagian dari edukasi masyarakat, supaya menjadi modal dasar. Artinya, membaca Quran juga menjadi tolak ukur bagi bacaleg untuk maju sebagai calon anggota legislatif.

Menurut Akmal, ada dua hal yang menjadi penyebab banyaknya bacaleg gugur. Pertama, si bacaleg memang sama sekali tidak pernah bisa membaca Quran karena tidak punya dasar. “Kalau dia punya dasar membaca Alquran, pasti bisa dan lulus. Kedua, dia punya dasar tapi tidak pernah mengulangnya, itu dua penyebabnya,” ujar Akmal.

Akmal mengakui, memang ada sebagian bacaleg yang bisa membaca Quran ketika dites di internal partai, tapi dinyatakan tidak bisa usai mengikuti tes bersama tim penguji. “Kita tidak tahu mengapa begitu, mungkin gugup atau hal-hal lainnya. Yang jelas, keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat,” pungkas Akmal Abzal. (dan)

Tanggapan masyarakat

“Kemampuan seorang caleg bisa membaca Quran sangat penting, karena memang diatur dalam aturannya. Kalau ada yang tidak bisa mengaji, saya sendiri tidak akan memilih, istilahnya buat nyelamatin diri sendiri aja dia nggak bisa, apalagi membimbing dan melindungi kita. Mungkin kedepan partai juga berperan saat merekrut, harus diseleksi dulu layak atau tidak,”
-- Mutiara Rahmah, mahasiswi FISIP Unsyiah.(mun)

“Secara hukum ada yang namanya lex specialis, otomatis dia spesial, berbeda dengan provinsi lain, berarti kita ya harus mampu membaca Alquran. ‘Sebagai ureung aceh rugoe menyo hanjeut beut (sebagai orang aceh tentu rugi jika tidak bisa mengaji),”
-- Reza Fahri, mahasiswa FISIF Unsyiah.(mun)

“Kalau caleg tidak bisa mengaji Alquran tentu tidak bagus, karena tidak memahami agama Islam. Mampu membaca Alquran itu penting, karena sebagai umat Islam Alquran itu pedoman. Kalau membaca Alquran saja tidak bisa, bagaimana mungkin bisa memimpin masyarakat,”

-- Rijal Habibi, pedagang sayur di Rukoh.(mun)

“Kalau di Aceh penting bisa mengaji, karena kita daerah syariat. Kalau kita mau pimpin orang, maka kita harus pimpin diri sendiri dulu. Kalau nanti naik ke panggung, nggak bisa ngaji, nggak bisa pidato, Allahu Akbar aja nggak bisa, bagaimana mau kita bilang sama orang. Kepada dewan yang terpilih nanti, kami tidak minta uang, tapi kami minta perhatiannya
-- Abdul Muthaleb, pedagang ayam di Rukoh.(mun)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help