Ketika Gas Melon Diduga Lari ke Orang tak Berhak  

BERBAGAI sinyalemen mencuat ketika gas elpiji 3 kg sering mengalami kelangkaan di Aceh

Ketika Gas Melon Diduga Lari ke Orang tak Berhak   

BERBAGAI sinyalemen mencuat ketika gas elpiji 3 kg sering mengalami kelangkaan di Aceh. Ada yang menduga ‘gas melon’ bersubsidi itu justru lari ke orang-orang yang tidak berhak.

Sinyalemen larinya elpiji ke kalangan yang tidak berhak mencuat antara lain di Meulaboh, Aceh Barat. Sebagaimana informasi yang diperoleh Serambi, selama ini ada pihak yang diduga bermain untuk mencari keuntungan dari gas melon bersubsidi itu. “Ada yang ikut antre membeli elpiji 3 kg di pangkalan di Meulaboh. Selanjutnya elpiji murah itu dijualnya dengan harga mahal ke warung dan kafe-kafe,” ujar seorang sumber.

Karena praktik itu berlangsung sangat tertutup, makanya pemerintah yang didukung pihak keamanan perlu menelusuri secara mendalam dan harus menjatuhkan sanksi tegas terhadap siapapun yang mempermainkan jatah masyarakat miskin.

Berhenti menjual
Sementara itu di Banda Aceh, berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, Sabtu (25/8), gas elpiji 3 kg masih tersedia di agen maupun pangkalan resmi dengan harga Rp 18.000/tabung. Hanya saja tabung elpiji 3 kg tersebut semakin sulit ditemui di kios-kios.

Beberapa kios yang biasa menjual elpiji 3 kg, tiba-tiba tidak tersedia lagi. Alasan pedagang karena ada larangan menjual elpiji 3 kg di atas HET yaitu Rp 18.000. Sedangkan jika dijual sesuai HET, pedagang eceren di kios tidak mendapatkan keuntungan.

“Biasanya elpiji 3 kg kami jual Rp 32.000 tapi sejak enam bulan terakhir sudah tidak menjual lagi karena memang tidak diperbolehkan lagi, sering dipantau juga,” ujar Rahmat, seorang pedagang di Lambhuk.

Alasan yang sama juga disampaikan beberapa pedagang lain di Beurawe dan Ulee Kareng. Selama ini mereka menjual elpiji 3 kg di kios seharga Rp 32.000 hingga Rp 35.000 tapi karena ada ketegasan larangan menjual di atas HET, maka mereka memutuskan tidak menjualnya lagi.

Siti Hajar, warga Ateuk Pahlawan, Banda Aceh mengatakan, selama ini memang tidak ada kendala mendapatkan elpiji 3 kg, hanya saja harus dibeli pada pangkalan resmi. Karena jika membeli di kios harganya mencapai Rp 32.000. “Kalau kosong stok di pangkalan pasti karena belum masuk mobil, kalau sore ini habis, pasti besoknya sudah ada,” kata Siti Hajar.(riz/mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved