Polisi Periksa Sembilan Saksi Penembakan Faisal

Penyidik Reskrim Polres Aceh Utara sudah memeriksa sembilan saksi untuk memulai pemberkasan

Polisi Periksa Sembilan Saksi Penembakan Faisal
Dua hari setelah Bripka Faisal meninggal, Rahmi, istrinya, melahirkan seorang putra, Selasa (28/8/2018). 

LHOKSUKON - Penyidik Reskrim Polres Aceh Utara sudah memeriksa sembilan saksi untuk memulai pemberkasan dan penyelidikan lanjutan kasus tewasnya Bripka Anumerta Faisal, personel Reskrim Polres Aceh Utara yang diklaim kapolres setempat ditembak tiga kali oleh komplotan bajak laut.

Dari sembilan saksi tersebut, tiga di antaranya adalah penarik ojek (RBT), yaitu Syahrul dan Bahagia, warga Kecamatan Madat, Aceh Timur, dan Faisal, warga Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Sedangkan enam saksi lainnya merupakan warga di kawasan lokasi kejadian, pantai Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara.

Diberitakan sebelumnya, Faisal ditemukan sudah meninggal di kawasan Pantai Desa Bantayan, Aceh Utara pada Munggu (25/8) sekira pukul 03.00 WIB. Belakangan terungkap bahwa Faisal dibunuh dengan cara ditembak menggunakan senjata api (senpi) jenis pistol revolver miliknya setelah dirampas Muktar Midi (31), anggota komplotan bajak laut asal Pulo U, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.

“Sudah kita mulai pemberkasan untuk kasus ini. Penyidik sudah memeriksa saksi dalam kasus ini--setelah kejadian--dari warga di lokasi kejadian dan termasuk dari tukang ojek yang sempat diamankan saat penangkapan tersangka,” ujar Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim Iptu Kholiddiansyah kepada Serambi kemarin.

Menurutnya, penyidik juga mengirim Surat Pemberitahuan Dimulai Penyidikan (SPDP) dalam kasus ini kepada jaksa. Sedangkan untuk dua DPO dalam kasus ini sampai sekarang masih terus diburu petugas. “Para tersangka dijerat dengan Pasal 354 juncto Pasal 338, juncto Pasal 170 dan Pasal 55 KUHPidana, yaitu secara bersama-sama melakukan penganiayaan sehingga menyebabkan orang meninggal.” ujar Iptu Rezki.

Selain itu, mereka juga dijerat dengan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1952 tentang Senjata Api. “Para tersangka dibidik dengan pasal berlapis. Karena menganiaya dan membunuh korban, mereka terancam hukuman 20 tahun penjara,” katanya. (jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help