Ekonomi Masyarakat jangan Sampai Kurang Berdenyut

Mantan bupati Bireuen, Mustafa A Geulanggang, mengharapkan standardisasi warung, kafe, restoran sesuai syariat Islam

Ekonomi Masyarakat jangan Sampai Kurang Berdenyut
SAIFANNUR, Bupati Bireuen

* Tanggapi Larangan Duduk Semeja Bagi Nonmahram

BANDA ACEH - Mantan bupati Bireuen, Mustafa A Geulanggang, mengharapkan standardisasi warung, kafe, restoran sesuai syariat Islam yang diterbitkan Bupati setempat, H Saifannur, agar sebaiknya disosialisasikan terlebih dahulu kepada pemilik warung kopi, kafe maupun restoran. Ba gaimana caranya agar tidak mematikan usaha dagang di Kabupaten Bireuen. Hal ini terutama terkait salah satu poin edaran ini, yakni haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya.

Mustafa menyampaikan hal ini saat menjadi narasumber tamu via telepon dalam program cakrawala membahas editorial (Salam) Serambi Indonesia di Radio Serambi FM, Kamis (6/9). Talkshow itu mengangkat topik berjudul ‘Bireuen Diajak “Tidur” Cepat’. Sebagai narasumber internal adalah Sekretaris Redaksi Harian Serambi Indonesia, Bukhari M Ali dan host Dosi Elfian.

“Kita berharap dengan edaran tersebut jangan sampai jadi masalah banyak kafe, rumah makan yang tutup, sehingga ekonomi masyarakat kurang berdenyut nantinya,” kata Mustafa.

Ia menyarankan sebaiknya edaran tersebut disosialisasikan terlebih dahulu kepada pemilik warung kopi, kafe maupun restoran. Sebab apabila sudah diedarkan seperti sekarang ini akan jadi pro dan kontra dalam masyarakat. “Saya melihat kehidupan di Kota Bireuen biasa-biasa saja, dan dalam mengelola kota dan masyarakatnya masih dalam hal batas wajar. Memang Bireuen merupakan kota yang tidak pernah tidur,” ujarnya.

Menurutnya hal itu karena Bireuen merupakan kota dagang dan berada di titik tengah apabila ada yang berangkat dari Banda Aceh selepas Maghrib menuju timur, ataupun sebaliknya. Maka banyak yang berhenti untuk makan dan sebagainya setiba di Bireuen. Di samping itu, kafe juga banyak yang buka larut malam dan semakin larut malam tidak ada lagi wanita yang ke luar rumah, paling ada satu, dua, tiga orang.

“Tidak boleh juga kita mengekang, karena kafe-kafe itu bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan mereka akan bertanya mana yang boleh. Edaran ini sebatas imbauan, baiknya panggil tokoh masyarakat, ulama, pengusaha kemudian sosialisasikan. Di situ nanti kita lihat pro kontranya,” demikian katanya. (una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help