Polisi Bekuk 5 Perambah Hutan Negara di Pijay

Lima perambah hutan negara di kawasan pegunungan Gle Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya (Pijay)

Polisi Bekuk 5 Perambah  Hutan Negara di Pijay
Empat dari lima perambah hutan negara di Perbukitan Gle Beuracan, Merueudu, Pidie Jaya menjalani pemeriksaan di Satreskrim Polres Pidie, Jumat (7/8/2018). foto/IST 

MEUREUDU - Lima perambah hutan negara di kawasan pegunungan Gle Beuracan, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya (Pijay), dibekuk aparat tim gabungan polisi, Kamis (6/8) sekira pukul 12.00 WIB.

Kelima tersangka masing-masing berinisial AM (45), warga Gampong Blang Baro, Kecamatan Bandar Baru; MN (32), asal Gampong Rumpun, Kecamatan Meureudu; MZ (32), warga Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara; RD (23), warga Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara; dan AZ (33), warga Gampong Glumpang Tutong, Kecamatan Meureudu, Pijay.

“Mereka tertangkap tangan pada saat menebang hutan di pegunungan Gle Beuracan, Meureudu, Pijay. Hutan itu milik negara,” sebut Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK melalui Kasat Reskrim, AKP Mahliadi MM, kepada Seramabi, Jumat (7/8).

Kelima tersangka perambah hutan itu ditangkap setelah polisi mendapat laporan masyarakat bahwa lokasi Gle Beuracan kerap dijadikan tempat penebangan hutan milik negara. Atas dasar laporan itu, Kanit Tipiter bersama tim gabungan bergerak untuk menelusuri hutan belantara Gle Beuracan, Meureudu. Setiba di lokasi itu mereka pergoki lima pria sedang melakukan illegal logging.

Di lokasi itu aparat gabungan juga menemukan enam keping kayu olahan, tiga gergaji mesin (chainsaw), dan dua sepeda motor (sepmor) yang digunakan untuk mengangkut kayu. “Kelima tersangka penebang liar itu saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif,” kata Mahliadi kemarin.

Dalam melakoni perambahan hutan itu, kelima tersangka melakukan penebangan kayu tanpa izin dari pejabat berwenang. Pohon yang telah ditebang langsung diolah, selanjutnya dilansir ke tempat yang dapat dilalui sepmor. Kayu olahan tersebut dimuat ke sepmor yang telah dimodifikasi, kemudian dibawa turun ke perkampungan untuk dijual kepada orang yang berminat.

Menurut AKP Mahliadi, kelima tersangka dijerat dengan Pasal 82 ayat (1) huruf a, b, dan huruf c Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberatasan Perusakan Hutan. (c43)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help