Pemerintah Harus Tutup Peluang Human Trafficking

Kasus perdagangan manusia (human trafficking) yang menimpa setidaknya dua perempuan asal Kota Lhokseumawe

Pemerintah Harus Tutup Peluang Human Trafficking
ENDANG SETIANINGSIH, Psikolog

BANDA ACEH - Kasus perdagangan manusia (human trafficking) yang menimpa setidaknya dua perempuan asal Kota Lhokseumawe dinilai oleh psikolog dari Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Banda Aceh, Dra Endang Setianingsih MPd sebagai sesuatu yang sangat miris. “Pemerintah harus serius menyikapi kasus ini,” kata Endang kepada Serambi, Sabtu (8/9) malam.

Dalam penilaian Endang, kasus perdagangan manusia sepertinya masih terus terjadi dan terkesan sangat sulit diungkap. Padahal, kata Endang, perdagangan manusia merupakan kejahatan serius dan sangat berbahaya karena meliputi segala bentuk jual beli manusia dan juga eksploitasi terhadap manusia itu sendiri seperti pelacuran (bekerja atau layanan paksa), perbudakan atau praktik yang menyerupainya, dan juga perdagangan/pengambilan organ tubuh manusia.

Kasus human trafficking, lanjut Endang terjadi karena ada beberapa faktor yang melatarbelakangi seperti faktor ekonomi, pola hidup konsumtif, minimnya pemahaman nilai agama, tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai serta lingkungan yang tidak kondusif yang menyebabkan orang mudah masuk perangkap pelaku human trafficking. “Dengan mengetahui akar persoalan, diharapkan pemerintah bisa menutup berbagai celah masuknya sindikat kejahatan human trafficking,” tandasnya.

Kasus yang sedang ditangani Polres Lhokseumawe, menurut Endang hampir bisa dipastikan adalah human trafficking. Selain mendorong pihak kepolisian untuk mengungkap tuntas kasus ini, pemerintah (khususnya Pemko Lhokseumawe) juga harus membuka pusat layanan rehabilitasi untuk para korban. “Ini persoalan serius yang harus disikapi serius pula,” kata psikolog yang akrab disapa Nonik tersebut.

Yang lebih penting lagi, kata Nobik, perlu dipastikan perlindungan korban sehingga proses pengusutan oleh pihak berwajib bisa berjalan lancar karena korban terbebas dari rasa takut ketika diminta untuk mengungkap tentang kejahatan tersebut. “Salah satu hambatan pengungkapan kasus ini adalah ketakutan masyarakat melapor karena khawatir terhadap keselamatan anggota keluarga mereka, meski sudah menjadi korban,” demikian Endang Setianingsih.(nas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help