Manajer Kantor Pos Terancam Dipecat

PT Pos Indonesia (Persero) Banda Aceh telah lama menetapkan standar operasional prosedur (SOP)

Manajer Kantor Pos Terancam Dipecat
SERAMBINEWS.COM/MISRAN ASRI
Kepala BNNP Aceh, Pol Drs Faisal Abdul Naser MH, dalam konferensi pers bersama Direktorat Narkoba Polda Aceh, dan BNNK Banda Aceh, terkait manajer Kantor Pos Kuta Alam Banda Aceh, Kamis (13/9/2018) 

* Karena Loloskan Paket Ganja

BANDA ACEH - PT Pos Indonesia (Persero) Banda Aceh telah lama menetapkan standar operasional prosedur (SOP) untuk setiap paket pengiriman yang mencurigakan. Paket yang dicurigai itu wajib diperiksa oleh petugas loket di depan si pengirim barang.

Jika SOP itu terbukti disimpangi oleh Otang Maruli Siregar selaku Manajer Pemasaran Kantor Pos Banda Aceh yang kini berstatus tersangka dalam kasus pengiriman paket ganja ke Tangerang, Banten, dari Kantor Pos Banda Aceh, maka ia akan dipecat.

“Untuk sanksinya, cukup berat bila Ontang terbukti terlibat dalam jaringan narkoba itu. Kasus-kasus seperti itu tidak dapat ditolerir dan konsekuensinya pecat,” tegas Kepala Kantor Pos Banda Aceh, Ahmad Saladin, kepada Serambi, Jumat (14/9), menyikapi keterlibatan Manajer Pemasaran Kantor Pos Banda Aceh itu dalam jaringan narkoba dan ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Aceh, Senin (10/9).

“Instruksi yang kami keluarkan di internal Kantor Pos Banda Aceh itu juga ada kaitannya dengan temuan security Bandara SIM, 19 April 2018 lalu berupa ganja kering 4 kg yang dikirim melalui loket Kantor Pos Pemeriksa (KPRK) Banda Aceh 23000. Sejak saat itu kami tegaskan setiap paket yang dicurigai wajib diperiksa kembali,” ungkap Ahmad.

Fakta itu menunjukkan komitmen pihaknya dalam memerangi narkoba, terutama untuk paket pengiriman yang dicurigai sebagai barang terlarang yang akan dikirim melalui Kantor Pos Banda Aceh.

Bahkan, menurutnya, petugas sempat beberapa kali menemukan paket yang dikirimkan seseorang seperti ganja berhasil digagalkan, karena petugas loket memutuskan untuk membuka paket dan memastikan isi kiriman tersebut. “Kami akan menghubungi BNNP Aceh bila ada temuan paket barang terlarang. Namun, kondisi yang kami hadapi saat ini, di mana seorang manajer Kantor Pos Banda Aceh terlibat dalam kasus ini betul-betul di luar dugaan kami sebagai kepala kantor. Kami sendiri sangat menyayangkannya,” ujar Ahmad.

Ia menyebutkan instruksi yang dikeluarkan itu dinilai tidak memberikan dampak apa-apa kepada Ontang. Padahal secara pribadi dan kinerja, Ontang dinilai pekerja keras dan berdedikasi tinggi.

Menurutnya, langkah-langkah antisipasi yang dilakukan selama ini sudah cukup ketat. Misalnya, barang yang dikirim itu berbentuk kotak, kubus, oval, panjang, bulat, dan seluruhnya dilakban, petugas mencurigai dan membukanya di depan pengirim. “Apabila pengirim tidak mau kirimannya itu dibuka, petugas wajib mintai identitas si pengirim berupa KTP, SIM, atau paspor asli untuk difotokopi. Petugas juga diinstruksikan tidak boleh menerima fotokopi identitas si pengirim, karena bisa jadi itu telah diedit atau di-scan,” ujar Ahmad.

Lalu, bagi yang belum memiliki printer yang berfungsi ganda untuk memfotokopi identitas si pengirim, disarankan untuk difoto dan selanjutnya dikirim via email ke alamat yang telah diarahkan beserta nomor resi kiriman dimaksud.

“Itu antisipasi kami terhadap kiriman barang terlarang. Lalu, penegasan lainnya agar pengirim mengisi form berupa pemberitahuan isi kiriman yang telah disedikan dan ditanda tangani oleh pengirim dan petugas loket kami,” ujarnya.

Penekanan terakhir, apabila pengirim tidak mau membuka kirimannya dan juga tidak memberikan identitas, sebaiknya kiriman itu ditolak. “Jadi, petugas loket kami yang bertugas hari Minggu itu, tanggal 9 September 2018 menolak paket itu, karena tersangka Muammar, pengirim 7 paket ganja tersebut tidak mau memberikan identitas apapun dengan alasan tinggal. Meski dia sebutkan isi kirimannya furniture (perabot), petugas kami tetap menolaknya dan tidak mau meng-entri ke daftar barang yang akan dikirimkan,” sebutnya.

Tapi, tidak lama setelah itu, Ontang yang juga bertugas hari itu keluar dan menanyakan mengapa paket itu tidak diterima. Namun, setelah disebutkan pengirimnya tidak mau menyerahkan identitas, akhirnya Ontang menyarankan Muammar boleh menitipkan barang itu di Kantor Pos dan menyerahkan nomor Hp-nya serta berjanji agar KTP-nya dibawa Senin (10/9), agar 7 paket itu bisa dikirim.

Lalu biaya kiriman sebesar Rp 850 ribu pun langsung dibayarkan hari itu dan diterima Ontang yang merekatkannya ke resi kiriman 7 paket tersebut. “Di hari Senin itulah sekitar jam 10 pagi datang petugas BNNP dengan surat tugas dan menanyakan mana paket yang akan dikirimkan ke Tangerang sembari meminta Ontang yang ditemui petugas BNNP Aceh agar menghubungi Muammar si pengirim tujuh paket itu. Pada waktu Muammar tiba di kantor pos petugas langsung mengamankannya. Tak lama setelah itu petugas mengamankan Ontang,” ungkap Ahmad yang mengaku sedang berada di luar Aceh saat itu.

Hal lainnya yang diklarifikasi Ahmad adalah tentang tersangka Heri Mauliza yang dalam pemberitaan Serambi kemarin disebutkan sebagai mantan pekerja di Kantor Pos Banda Aceh. Menurut Ahmad, Heri bukan pegawai, melainkan tenaga kontrak yang masa kerjanya diperpanjang setiap tahu tahun, bila kinerjanya bagus. “Istilah di sini dia (Heri -red) itu PKWT atau kontrak yang setiap tahun bisa dilanjutkan atau tidak,” tutup Ahmad. (mir)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved