Gampong Nusa, Gairah Baru Desa Wisata  

DIPAGARI gugusan Bukit Barisan dengan anak sungai yang membelah desa, membuat paras Gampong Nusa

Gampong Nusa, Gairah Baru Desa Wisata   

DIPAGARI gugusan Bukit Barisan dengan anak sungai yang membelah desa, membuat paras Gampong Nusa tak ubahnya perawan nan menawan. Bocah-bocah kampung berenang memecahkan riak kali yang permai. Kearifan lokal yang lestari hingga kini, menjadi daya tarik tersendiri. Digosok dengan kreativitas warganya memberdayakan potensi yang ada, membuat tempat ini makin bersinar. Gampong Nusa, gairah baru desa wisata.

Nama Gampong Nusa mulai bergaung sejak dua tahun belakangan. Geliat wisata yang dimotori anak muda setempat menjadi ‘darah baru’ ekonomi warga yang mayoritas bekerja sebagai petani. Sebagai kawasan yang tak luput diamuk tsunami, desa wisata yang berada di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar ini kini mulai bersolek. Mulai dari keberadaan suvenir berbahan sampah organik, jamuan makan ala idang khas Aceh, paket wisata alam dan budaya, hingga keberadaan homestay dengan nuansa perkampungan yang kental.

“Mengembangkan wisata secara berkelompok memang tidak mudah, tapi hasilnya bisa dirasakan bersama. Kesadaran warga di sini sudah terbangun, malah mereka sekarang yang antusias,” ujar Nur Hayati (47).

Saat Serambi menyambangi Gampong Nusa, Kamis (27/9), perempuan ini sedang menyiapkan jamuan makan siang untuk rombongan tamu yang berkunjung ke desa tersebut. Jamuan makan idang dengan menu khas Aceh seperti keumamah, kuah beulangong, dan asam udeung tersebut dibanderol Rp 50 ribu per orang. Ia melayani order minimal untuk lima tamu dan dijamu di seuramo (teras) rumahnya yang berbentuk rumah panggung.

Beranjak dari kediaman Nur Hayati yang kelihatan asri dengan tanaman tropis, Serambi diajak melihat salah satu homestay ‘Abeh Lagee’. Semburat warna hijau dan kuning khas Melayu membalut rumah panggung. Di muka homestay, sebuah balai-balai layaknya gazebo dengan jeungki mini ditambah sarang burung yang bergelantungan menyambut pengunjung. Rumah tiga kamar berlantai kayu itu terlihat apik dan nyaman.

Nur Hayati mengatakan, Gampong Nusa mempunyai 40 homestay serupa dengan tarif Rp 60 ribu per malam untuk satu tamu. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung mulai dari warga lokal, wisatawan dosmetik, hingga wisatawan mancanegera.

Di sini pengunjung ditawarkan paket wisata yang bisa dinikmati di tempat tersebut. Mulai dari kemping, bermain permainan tradisional, cooking class masakan tradisional, membuat kerajinan, hingga atraksi budaya berupa suguhan tari etnik. Satu paket wisata dihargai Rp 20 ribu per orang, tanpa batas minimal booking. Untuk menarik minat wisatawan berkunjung, setiap tahunnya digelar ajang ‘Nusa Festival’ yang memamerkan kreasi warga.

“Ini swasembada masyarakat karena Gampong Nusa memang bukan desa binaaan. D sini kami sudah biasa menjalankannya semua dengan sistem gotong royong,” imbuh Nur Hayati.

Rumah-rumah warga yang terbilang padat dan hanya dipisahkan gang, dihiasi pemandangan para perempuannya yang membuat kerajinan tangan. Ramlah (42) tahun, yang pernah mengikuti pelatihan daur ulang sampah sedang membuat kotak tisu dari cemara taman. Kotak tisu buatannya dilepas seharga Rp 40 ribu-Rp 50 ribu per buah.

Setali tiga uang dengan Ramlah, warga lainnya membuat hiasan bunga yang terbuat dari sampah organik yang mudah ditemukan di desa tersebut. Dilepas seharga Rp 15 ribu per tangkai. Menjadi tentengan oleh-oleh untuk wisatawan yang berkunjung. Matahari penghujung September di sini masih terbilang garang, namun lain halnya dengan kehangatan warganya.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved