Puluhan Gajah Liar Mengamuk

Kawanan gajah liar berjumlah sekitar 30 ekor mengamuk dengan merusak puluhan hektare kebun produktif

Puluhan Gajah Liar Mengamuk
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN
DUA wanita usia senja tampak berdiri sedih di samping gubung kebunnya yang telah hancur diamuk gajah liar, Sabtu (10/3/2018) di Namo Kongkir, Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. 

* Rusak Kebun Petani di Padang Tiji

SIGLI - Kawanan gajah liar berjumlah sekitar 30 ekor mengamuk dengan merusak puluhan hektare kebun produktif petani di Gampong Seunadeu dan Blang Guci, Kecamatan Padang Tiji, Pidie.

Teror dari satwa dilindungi itu telah satu minggu berlangsung dan hingga kemarin masih bertahan di kebun warga yang bersebelahan dengan areal persawahan.

Keuchik Seunadeu pun melaporkan persoalan ini kepada anggota DPRK Pidie, Khairil Syahrial MAP saat berkunjung ke Gampong Seunadeu, Jumat (12/10), dan mendesak anggota DPRK tersebut memfasilitasi proses penyelesaian masalah dengan mendorong pihak terkait untuk segera turn ke lapangan.

“Warga sangat resah munculnya kawanan gajah liar berjumlah puluhan ekor, yang kini telah mengobrak-abrik tanaman cabai, kakao, pinang dan tanaman produktif lainnya di kawasan itu,” kata Khairil Syahrial, kemarin.

Ia menjelaskan, petani yang kebunnya rusak akibat digasak gerombolan gajah liar itu tidak tahu harus melaporkan ke mana. Selama satu minggu, kerusakan yang disebabkan gangguan satwa langka itu pun semakin meluas. Petani juga tidak berani ke kebun karena kawanan gajah berkeliaran masih menguasai kebun-kebubn warga.

“Kami berharap BKSDA dan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Aceh segera turun tangan mengusir kawanan gajah liar ini dari kebun dan kawasan permukiman warga sebelum warga bertindak anarkis terhadap hewan dilindungi itu,” ujar Khairil.

Anggota DPRK Pidie, Khairil Syahrial, mengatakan bahwa respons yang diharapkan selama ini dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh sangat lamban dalam menyahuti keresahan warga akibat gangguan gajah liar yang sudah berlangsung selama satu minggu ini.

Karena itu menurutnya, jika masih terus menunggu respons dari BKSDA Aceh, dikhawatirkan semua tanaman di dalam kebun hancur semua. Tentunya hal ini berdampak pada kerugian besar di pihak petani. Padahal, hasil kebun tersebut merupakan sumber utama masyarakat di kawasan ini dalam memenuhi kebutuhan ekonominya.

“Karena itu kami minta SKPK terkait yakni Dinas Pangan dan Perkebunan Pidie, segara mengambil alih tanggung jawab untuk mengatasi persoalan gangguan gajah di Padang Tiji,” katanya, tanpa menjelaskan apakah dewan telah mengalokasikan/menyetujui dana untuk penanganan satwa liar dalam APBK 2018.

Namun, Khairil terus mendesak dinas tersebut untuk melakukan pengusiran gajah liar dan mengganti rugi tanaman kebun petani yang dirusak gajah. “Sebab kerusakan kebun warga akibat satwa dilindungi ini bisa dikategorikan sebagai bencana,” ujarnya.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved